Antisipasi Dampak Jackson Hole Symposium pada Pasar Keuangan RI

Langkah-langkah strategis yang bisa diambil investor dan pelaku usaha menghadapi volatilitas rupiah pasca pertemuan bank sentral global

Avatar photo

- Pewarta

Rabu, 20 Agustus 2025 - 08:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS dalam sepekan terakhir menunjukkan tekanan pasar yang semakin kuat. (Pixabay.com/IqbalStock)

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS dalam sepekan terakhir menunjukkan tekanan pasar yang semakin kuat. (Pixabay.com/IqbalStock)

NILAI tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), menyentuh level Rp15.890 per dolar AS pada perdagangan Selasa (19/8/2025).

Pelemahan ini terjadi seiring dengan meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar menanti pidato Ketua The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell di Simposium Jackson Hole akhir pekan ini.

Analis pasar keuangan memprediksi tekanan pada rupiah akan berlanjut jika The Fed menunjukkan sikap hawkish (kecenderungan menaikkan suku bunga).

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pasar sedang bersiap menghadapi potensi pengetatan kebijakan moneter AS, yang bisa memperkuat dolar dan melemahkan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” jelas Lukman Leong, analis Doo Financial Futures.

Pengaruh Kebijakan The Fed dan Ketegangan Geopolitik

Pertemuan tahunan bank sentral di Jackson Hole, AS, pada 21-23 Agustus 2025 menjadi sorotan utama pelaku pasar global.

Dalam beberapa tahun terakhir, forum ini kerap digunakan The Fed untuk memberikan sinyal kebijakan moneter.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar memprediksi 83% kemungkinan The Fed akan memotong suku bunga pada September 2025.

Namun, jika Powell justru mengisyaratkan penundaan atau pengetatan, dampaknya bisa signifikan terhadap aliran modal asing di Indonesia.

Selain faktor The Fed, ketegangan geopolitik juga menambah tekanan.

Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Jumat (15/8/2025) gagal mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri perang di Ukraina.

Trump bahkan mengancam akan memberlakukan sanksi lebih keras terhadap pembeli minyak Rusia, termasuk Tiongkok dan India.

“Jika sanksi terhadap ekspor energi Rusia diperketat, dampaknya bisa meluas ke harga komoditas global, termasuk bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia,” ungkap laporan analis Bloomberg.

Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok yang Melambat

Faktor lain yang membayangi rupiah adalah perlambatan ekonomi Tiongkok. Data National Bureau of Statistics (NBS) menunjukkan pertumbuhan produksi industri Tiongkok melambat menjadi 5,7% (year-on-year) pada Juli 2025, terendah sejak November 2024.

“Penurunan aktivitas manufaktur Tiongkok bisa mengurangi permintaan komoditas ekspor Indonesia, seperti batu bara dan minyak sawit,” kata Dian Ayu Yustina, ekonom Bank Mandiri, dalam laporannya.

Selain itu, kebijakan perang harga dan tarif impor AS terhadap produk Tiongkok turut memengaruhi sentimen pasar.

Jika permintaan dari Tiongkok melemah, neraca perdagangan Indonesia berpotensi terdampak.

Prospek Rupiah ke Depan

Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan terus menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar valas dan operasi moneter. Namun, tekanan eksternal yang kuat bisa membatasi ruang geraknya.

“Jika The Fed tetap hawkish, BI mungkin perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga untuk mempertahankan daya tarik aset Indonesia,” ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata,.

Sementara itu, pelaku pasar menyarankan investor untuk bersikap hati-hati.

“Volatilitas masih tinggi, jadi diversifikasi portofolio dan lindung nilai (hedging) sangat disarankan,” kata Andi Wijaya, analis PT Bahana Sekuritas.

Pasar Menunggu Isyarat dari Jackson Hole

Pelemahan rupiah kali ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal: ketidakpastian kebijakan The Fed, ketegangan geopolitik, dan perlambatan ekonomi Tiongkok.

Pasar kini menunggu isyarat dari Jackson Hole untuk menentukan arah investasi ke depan.

Jika The Fed mempertahankan sikap hawkish, tekanan pada rupiah bisa berlanjut.

Namun, jika ada sinyal pelonggaran, peluang pemulihan masih terbuka. Semuanya tergantung pada kata-kata Jerome Powell dalam pidatonya akhir pekan ini.****

Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Infotelko.com dan Infoekonomi.com.

Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media 23jam.com dan Haiidn.com.

Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Hallotangsel.com dan Haisumatera.com.

Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.

Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.

Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com

Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.

Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.

Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.

Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center

Berita Terkait

Kilas Keuangan Awal 2026: Paylater Meningkat, Rupiah Jadi Sorotan, dan Perlindungan Konsumen Menguat
Kolaborasi PR Newswire dan PSPI Perkuat Akses Media Indonesia melalui 175 Portal Berita Nasional
Peresmian Kantor Baru DPD KAI Banten Warnai Hari Pahlawan di Tangerang Raya
Efek Purbaya Mengguncang Bursa Politik: Dari Meja Kemenkeu ke Bursa Capres 2029
TEI ke-40 Resmi Ditutup, Mendag Busan: Transaksi Lewati Target, Capai USD 22,80 Miliar
83,5% Rakyat Puas, Dunia Usaha Optimis — Purbaya Yudha Sadewa Dianggap Simbol Efisiensi Kabinet Prabowo
LLV Gandeng IGPI, Perusahaan Jepang Kini Lebih Mudah Kuasai Pasar Indonesia
Pesan OJK di RUALB PROPAMI: Perkuat Kompetensi Profesi Pasar Modal

Berita Terkait

Rabu, 14 Januari 2026 - 14:56 WIB

Kilas Keuangan Awal 2026: Paylater Meningkat, Rupiah Jadi Sorotan, dan Perlindungan Konsumen Menguat

Selasa, 18 November 2025 - 14:32 WIB

Kolaborasi PR Newswire dan PSPI Perkuat Akses Media Indonesia melalui 175 Portal Berita Nasional

Senin, 10 November 2025 - 23:22 WIB

Peresmian Kantor Baru DPD KAI Banten Warnai Hari Pahlawan di Tangerang Raya

Selasa, 28 Oktober 2025 - 19:17 WIB

Efek Purbaya Mengguncang Bursa Politik: Dari Meja Kemenkeu ke Bursa Capres 2029

Senin, 20 Oktober 2025 - 17:28 WIB

TEI ke-40 Resmi Ditutup, Mendag Busan: Transaksi Lewati Target, Capai USD 22,80 Miliar

Berita Terbaru