BUSINESS TODAY – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) perlahan menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pada penutupan perdagangan Rabu (4/2), IHSG berhasil berakhir di zona hijau dengan penguatan 0,30% ke level 8.146,72, meski tekanan jual dari investor asing masih cukup besar.
Penguatan indeks terutama ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar. Amman Mineral Internasional (AMMN) mencuri perhatian setelah melesat 8,73%, disusul Bank Central Asia (BBCA) yang naik 1,96% serta Bank Mandiri (BMRI) yang menguat 3,52%. Kinerja positif saham big caps ini menjadi bantalan utama pergerakan IHSG di tengah volatilitas pasar.
Namun, tidak semua saham bergerak searah. Tekanan terlihat pada Telkom Indonesia (TLKM) yang terkoreksi 3,48%, sementara saham FILM dan MORA masing-masing anjlok hingga 15%, mencerminkan masih selektifnya minat investor.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Asing Masih Net Sell, Tapi IHSG Bertahan
Dari sisi aliran dana, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih dengan net sell Rp1,42 triliun di pasar reguler dan Rp1,44 triliun secara keseluruhan. Meski demikian, IHSG tetap mampu bertahan di zona hijau, menandakan adanya dukungan kuat dari investor domestik.
Secara sektoral, lima dari 11 sektor berakhir menguat. Sektor basic industry menjadi penopang utama dengan kenaikan 3,32%, sementara consumer cyclicals justru mencatatkan pelemahan terdalam sebesar 4,02%.
Aturan Free Float 15% Berpotensi Tingkatkan Volatilitas
Dari sisi kebijakan, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama regulator pasar modal tengah menyiapkan implementasi ketentuan free float minimum 15% yang akan diberlakukan secara bertahap selama tiga tahun sejak aturan diterbitkan.
Baca Juga:
Otis Tunjuk Nicolas Lopez sebagai President, Asia Pasifik
China Cycle 2026: Membangun Platform Global guna Mendorong Kerja Sama dan Inovasi Industri Sepeda
CGTN: Bagaimana Jalur Pembangunan Tiongkok Menjadi Model bagi Pertumbuhan Global
Sebanyak 49 emiten berkapitalisasi besar ditetapkan sebagai proyek percontohan, mengingat kelompok ini merepresentasikan sekitar 90% kapitalisasi pasar dari 267 emiten yang belum memenuhi ketentuan free float.
BEI juga menyiapkan pendampingan serta opsi aksi korporasi bagi emiten terdampak. Namun, kebijakan ini berpotensi memunculkan risiko supply overhang dan peningkatan volatilitas harga, khususnya pada saham-saham yang perlu menambah porsi kepemilikan publik.
Buyback Saham Jadi Sentimen Positif
Di tengah dinamika pasar, Chandra Asri Pacific (TPIA) mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai maksimal Rp2 triliun. Aksi ini mengacu pada POJK No. 13/2023 serta Surat OJK S-102/D.04/2025, sehingga dapat dilakukan tanpa persetujuan RUPS.
Perseroan memperkirakan buyback mencapai sekitar 250 juta saham atau setara 0,29% dari modal disetor, dengan sumber dana berasal dari kas internal. Henan Putihrai Sekuritas ditunjuk sebagai pelaksana aksi korporasi ini.
Baca Juga:
Huawei Lansir AI Data Platform untuk Mempercepat Adopsi AI di Perusahaan
MWC 2026 丨 Konvergensi “Optical Intelligence”: Menghubungkan Masa Depan Cerdas yang Lebih Cerah
Huawei dan Bittel Luncurkan Solusi Xinghe Al SafeStay Hotel Campus Network
Tak hanya TPIA, emiten lain yang terafiliasi dengan konglomerasi Prajogo Pangestu juga melakukan langkah serupa, antara lain BREN (Rp2 triliun), BRPT (Rp1 triliun), dan CUAN (Rp750 miliar). Seluruh periode buyback dijadwalkan berlangsung mulai 4 Februari hingga 3 Mei.
Rekomendasi Saham Hari Ini
Berikut saham-saham pilihan yang menarik untuk dicermati pada perdagangan hari ini:
UNTR
Buy: 27.600 – 27.800
Target Price: 28.425 – 30.000
Stop Loss: 25.700UNVR
Buy: 2.020 – 2.040
Target Price: 2.100 – 2.170
Stop Loss: 1.900JSMR
Buy: 3.750 – 3.780
Target Price: 3.830 – 3.950
Stop Loss: 3.520BRMS
Buy: 975 – 990
Target Price: 1.020 – 1.070
Stop Loss: 930









