IHSG Masih Labil Usai ATH dan Trading Halt Investor Disarankan Lakukan Strategi Ini

- Pewarta

Senin, 2 Februari 2026 - 07:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

IHSG Masih Labil Usai ATH dan Trading Halt Investor Disarankan Lakukan Strategi Ini

IHSG Masih Labil Usai ATH dan Trading Halt Investor Disarankan Lakukan Strategi Ini

BUSINESS TODAY – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan terakhir benar-benar menguji mental investor. Setelah sempat mencetak All Time High (ATH) di kisaran 9.100 pada 20 Januari 2026, IHSG justru berbalik arah secara drastis hingga mengalami trading halt dua kali dan turun kembali ke area 7.600.

Kondisi ini membuat banyak investor merasa seperti diajak naik roller coaster. Euforia reli tajam berubah menjadi kepanikan dalam waktu singkat. Tak sedikit investor yang kini berada di posisi “nyangkut”, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang sempat mengalami Auto Reject Bawah (ARB) beruntun.

Meski demikian, sebagian investor lain justru mulai mencatatkan keuntungan kembali setelah berani melakukan akumulasi di area bawah pada saham-saham yang dinilai memiliki valuasi menarik dan fundamental kuat.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tengah volatilitas yang masih tinggi, investor diimbau untuk tetap tenang, tidak panik, dan menghindari keputusan emosional, terutama aksi jual terburu-buru yang berpotensi mengunci kerugian.

Volatilitas Tinggi, Saatnya Evaluasi Portofolio

Gejolak IHSG menjadi pengingat bahwa bertahan di pasar modal tidak hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga tentang disiplin, manajemen risiko, dan menjaga kesehatan mental investor.

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah evaluasi ulang portofolio secara menyeluruh. Investor disarankan mulai melakukan decluttering saham, yakni mengurangi posisi trading jangka pendek yang rentan tertekan saat volatilitas tinggi.

Dalam kondisi pasar yang rawan koreksi, level support teknikal kerap ditembus. Oleh karena itu, keluar sementara untuk mengamankan modal dinilai lebih bijak, sambil menunggu tekanan jual mereda atau munculnya sinyal teknikal yang lebih jelas.

Sementara itu, saham yang memang ditujukan untuk investasi jangka panjang masih dapat dipertahankan, dengan catatan emiten tersebut memiliki fundamental solid dan prospek pertumbuhan yang berkelanjutan. Investor juga dianjurkan memperkuat cash buffer untuk mengantisipasi peluang average down di level yang lebih optimal.

Selektif Pilih Saham, Jangan Asal Serok

Bagi investor baru, kondisi pasar saat ini kerap disebut sebagai peluang karena banyak saham kembali ke valuasi yang lebih murah. Namun, kondisi tersebut bukan berarti investor bisa membeli saham secara sembarangan.

Pendekatan selektif tetap menjadi kunci, dengan fokus pada emiten berfundamental kuat, valuasi masuk akal, serta memiliki rekam jejak kinerja yang baik.

Hal serupa juga berlaku bagi investor lama, termasuk yang masih terjebak di saham tertentu. Selain menunggu pemulihan pada saham yang masih sejalan dengan tesis investasi awal, rotasi portofolio ke saham lain setelah mengamankan sebagian modal dapat menjadi opsi yang patut dipertimbangkan.

Ketidakpastian Masih Membayangi hingga Mei 2026

Pasar saham domestik diperkirakan masih menghadapi sejumlah ketidakpastian hingga sekitar Mei 2026, terutama terkait isu free float serta menunggu pergantian pejabat di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam kondisi seperti ini, strategi yang relatif lebih defensif adalah berfokus pada saham value dengan fundamental kuat, valuasi murah, atau emiten yang menawarkan prospek dividend investing.

Di sisi lain, sentimen positif datang dari pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto terkait rencana kenaikan batas investasi saham untuk dana pensiun dan asuransi hingga 20%. Kebijakan ini berpotensi menjadi katalis positif bagi saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya yang tergabung dalam indeks LQ45 dan IDX30.

Selain itu, saham-saham dengan free float di bawah 15% juga menarik untuk dicermati. Jika investor institusi besar seperti dana pensiun, asuransi, hingga BPJS Ketenagakerjaan mulai masuk, kondisi tersebut berpotensi memicu pergerakan harga dalam jangka pendek.

Berita Terkait

Klaim Mini LED Samsung Digugat TCL di Pengadilan Los Angeles
Bidikan Bisnis Ritel Fashion: Strategi Efisiensi Rantai Pasok Lewat Skema Maklon Pakaian Olahraga Air
Sinar Mas Land Raih Top 10 Developers Award Hubexo Asia Awards 2026
Sinar Mas Land Buka Jalan Investasi Ekonomi Kreatif Lewat KEK ETKI Banten
Abraham Rudy Tan Terpilih Sekjen ACCA, PSMTI Indonesia Cetak Sejarah Baru di Tingkat Asia Tenggara ASEAN
Sinar Mas Land Raih Dua Penghargaan IPBA 2026, Perkuat Strategi Pengembangan Kota Berkelanjutan
SapuLangit Media Kelola Lebih dari 200 Portal Berita, Mayoritas Media Ekonomi Bisnis dan Pers Daerah untuk Reputasi
Living Lab Ventures Gandeng Nihon M&A Center Perkuat Gerbang Investasi Indonesia-Jepang

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 12:55 WIB

Klaim Mini LED Samsung Digugat TCL di Pengadilan Los Angeles

Kamis, 8 Oktober 2026 - 10:53 WIB

Bidikan Bisnis Ritel Fashion: Strategi Efisiensi Rantai Pasok Lewat Skema Maklon Pakaian Olahraga Air

Kamis, 24 September 2026 - 17:15 WIB

Sinar Mas Land Raih Top 10 Developers Award Hubexo Asia Awards 2026

Rabu, 16 September 2026 - 20:40 WIB

Sinar Mas Land Buka Jalan Investasi Ekonomi Kreatif Lewat KEK ETKI Banten

Selasa, 15 September 2026 - 07:40 WIB

Abraham Rudy Tan Terpilih Sekjen ACCA, PSMTI Indonesia Cetak Sejarah Baru di Tingkat Asia Tenggara ASEAN

Berita Terbaru

Pers Rilis

Sunlife perkenalkan merek global baru

Sabtu, 17 Okt 2026 - 02:18 WIB