Singapura Tempati Peringkat No.1 Dunia dalam Peta Persaingan Tenaga Kerja

Avatar photo

- Pewarta

Rabu, 26 November 2025 - 09:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

logo

logo

FONTAINEBLEAU, Perancis dan SINGAPURA dan SAN FRANCISCO, 26 November 2025 /PRNewswire/ — Singapura mengungguli Swiss setelah menempati posisi pertama dalam Global Talent Competitiveness Index (GTCI) terbaru, sebuah pencapaian yang terwujud berkat kemampuan Singapura membina tenaga kerja yang mudah beradaptasi, melek digital, dan siap berinovasi pada era kecerdasan buatan (AI).

Untuk pertama kalinya, Singapura memuncaki peringkat tahunan yang diluncurkan INSEAD tersebut. INSEAD menyusun GTCI sejak 2013 sebagai referensi untuk kebijakan ketenagakerjaan, serikat pekerja, dan mobilitas tenaga kerja.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Negara-negara maju di Eropa tetap mendominasi peringkat 10 besar. Namun, GTCI edisi tahun ini juga menyoroti penurunan peringkat beberapa negara maju, termasuk posisi Amerika Serikat (AS) yang merosot dari peringkat ketiga menjadi kesembilan.

Mengangkat tema "Resilience in the Age of Disruption", GTCI edisi ke-11 membahas upaya yang ditempuh berbagai negara untuk membangun sistem ketenagakerjaan yang mampu menghadapi berbagai disrupsi. Daftar yang memuat peringkat 135 negara ini menggunakan 77 indikator, termasuk kemampuan interpersonal (soft skill) dan konsentrasi tenaga kerja AI, dalam enam aspek: Enable, Attract, Grow, Retain, Vocational and Technical Skills, serta Generalist Adaptive Skills.

"Dengan daya tahan yang baik, tenaga kerja harus mampu mengubah tantangan menjadi dorongan untuk melahirkan inovasi, beradaptasi, dan memiliki tujuan baru," kata Felipe Monteiro, Academic Director, GTCI, Senior Affiliate Professor, Strategy, INSEAD.

"Daya tahan tenaga kerja juga berarti menguasai kemampuan untuk bergerak maju, bukan sekadar bangkit dari krisis."

Lily Fang, Dean, Research and Innovation, INSEAD, berkata: "Laporan GTCI tahun ini tidak hanya mengungkap persaingan antarnegara. Namun, temuan kami menyajikan analisis penting tentang integrasi teknologi unggulan, seperti AI, guna memajukan kualitas hidup manusia."

Dalam GTCI tahun ini, INSEAD dan Portulans Institute, lembaga riset nirlaba yang berbasis di Washington D.C., menjalin kolaborasi baru.

"Kolaborasi ini meningkatkan kedalaman GTCI, terutama di tengah perubahan teknologi yang cepat, kondisi geopolitik yang tidak menentu, dan transisi sosial yang drastis," ujar Rafael Escalona Reynoso, CEO, Portulans Institute.

Keunggulan Singapura

Laporan GTCI menilai, keunggulan Singapura tercapai berkat pengembangan sistem pendidikan secara berkelanjutan, serta pendekatan jangka panjang dalam membina tenaga kerja yang adaptif dan berorientasi pada inovasi.

Singapura menempati peringkat pertama dalam aspek Generalist Adaptive Skills, mencerminkan penguasaan soft skill, literasi digital, dan pola pikir inovatif guna menghadapi perubahan. Kemampuan Singapura dalam mempertahankan tenaga kerja juga meningkat tujuh peringkat ke posisi ke-31.

"Negara yang membangun tenaga kerja adaptif, mampu bekerja lintasfungsi, dan melek AI cenderung lebih mampu mengubah disrupsi menjadi peluang serta menjaga daya saing jangka panjang," kata Paul Evans, Emeritus Professor, Organisational Behaviour, INSEAD, dan salah satu editor laporan GTCI.

GTCI 2025: Peringkat 20 Besar  

1. Singapura

11. Irlandia

2. Swiss

12. Inggris

3. Denmark

13. Islandia

4. Finlandia

14. Kanada

5. Swedia

15. Belgia

6. Belanda

16. Austria 

7. Norwegia

17. Jerman

8. Luksemburg

18. Selandia Baru

9. Amerika Serikat

19. Perancis

10. Australia

20. Republik Ceko 

Bekerja efisien

Laporan GTCI 2025, diaudit oleh Pusat Kerja sama Komisi Eropa, menyampaikan satu pesan utama, yakni kemampuan mengubah investasi menjadi hasil nyata merupakan keunggulan sebuah negara dalam peta persaingan tenaga kerja.

Israel bersama Singapura dan Korea Selatan menjadi contoh dari negara yang mampu menghasilkan tenaga kerja bermutu tinggi dengan sumber daya yang lebih terbatas. Fenomena serupa juga terjadi di sejumlah negara berpendapatan menengah-bawah, seperti Tajikistan, Kenya, Uzbekistan, Sri Lanka, Myanmar, Pakistan, dan Bangladesh. Bahkan, negara-negara berpendapatan rendah, seperti Rwanda, memiliki fondasi yang kuat dalam pengembangan tenaga kerja.

Evans menambahkan, "Negara yang menyelaraskan sistem pendidikan, tenaga kerja, dan inovasi untuk mengembangkan tenaga kerja adaptif kelak mencapai kinerja unggulan meski tingkat pendapatannya tidak besar."

Berdasarkan wilayah

Secara regional, posisi Eropa tetap dominan, menempati 18 dari 25 peringkat teratas, termasuk Jerman (17), Perancis (19), dan Inggris (12). Di Asia dan Oseania, Australia (10) dan Selandia Baru (18) unggul dalam mempertahankan talenta namun tertinggal dalam aspek General Adaptive Skills. Penurunan peringkat Tiongkok dari posisi ke-40 menjadi ke-53 mencerminkan kondisi bisnis dan pasar tenaga kerja yang kurang kondusif. Meski demikian, laporan GTCI menilai, data yang kurang lengkap bisa menjadi faktor penurunan peringkat Tiongkok.

Di Amerika Utara, kemampuan pengembangan dan pemanfaatan tenaga kerja tecermin dari posisi AS (9) dan Kanada (14). Kendati demikian, peringkat AS menurun dari 2023.

Di Afrika Utara dan Asia Barat, Israel (23) memimpin GTCI, sedangkan Uni Emirat Arab (25) unggul dalam menarik minat tenaga kerja dan pengembangan keterampilan, meski masih lemah dalam keterampilan mutakhir.

Chile (39) menempati posisi teratas di Amerika Latin dan Karibia, disusul Uruguay (42) dan Kosta Rika (44). Namun Brazil dan Meksiko tidak tercantum dalam peringkat 50 besar.

Ke depan, Escalona Reynoso menekankan, "Kemampuan beradaptasi menjadi faktor terutama saat ini: kemampuan berkolaborasi, berpikir lintasdisiplin, berinovasi di bawah tekanan kerja, dan menghadapi lingkungan yang bergerak cepat dan berorientasi pada teknologi.

"Keterampilan tersebut semakin menentukan daya saing sebuah negara — dan, GTCI kini mengungkap realitas ini secara lebih jelas."

Informasi selengkapnya dan materi untuk media
Laporan selengkapnya dan infografik tersedia di tautan ini. Ikuti tagar #GTCI2025.
Baca selengkapnya tentang temuan GTCI 2025 di sini. 

Berita Terkait

Creality Rayakan 12 Tahun Inovasi dengan KliTek™ dan Ekspansi Ekosistem Berbasis AI
Wuling Serahkan Unit Perdana EKSION di Indonesia, SAIC Group Catat Pengiriman 100 Juta Kendaraan Secara Global
EngineAI Resmikan Pabrik Cerdas di Shenzhen, Robot Humanoid T800 Mulai Dikirim secara Massal
Gravity Game Unite (GGU) Tutup OBT MMORPG PC “Ragnarok Zero: Global” dengan Sukses Besar
Hainan: Etalase Kebijakan Pintu Terbuka Tiongkok
Crystal Lagoons Luncurkan Model Baru Small Lagoons by Crystal Lagoons™ Seluas 500 m², Menandai Akhir Era Kolam Renang Komersial
Haier Biomedical Raih Dua Peringkat Teratas dalam Laporan Euromonitor tentang Penjualan Peralatan Laboratorium Ilmu Hayati di Pasar Global, Tuntaskan Ekspansi Global dalam Tiga Tahap
Desay SV Pamerkan Inovasi Mobilitas Berbasis AI di AEE 2026

Berita Terkait

Minggu, 31 Mei 2026 - 20:32 WIB

Creality Rayakan 12 Tahun Inovasi dengan KliTek™ dan Ekspansi Ekosistem Berbasis AI

Minggu, 31 Mei 2026 - 20:23 WIB

Wuling Serahkan Unit Perdana EKSION di Indonesia, SAIC Group Catat Pengiriman 100 Juta Kendaraan Secara Global

Sabtu, 30 Mei 2026 - 19:15 WIB

EngineAI Resmikan Pabrik Cerdas di Shenzhen, Robot Humanoid T800 Mulai Dikirim secara Massal

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:49 WIB

Gravity Game Unite (GGU) Tutup OBT MMORPG PC “Ragnarok Zero: Global” dengan Sukses Besar

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:45 WIB

Hainan: Etalase Kebijakan Pintu Terbuka Tiongkok

Berita Terbaru

Pers Rilis

Hainan: Etalase Kebijakan Pintu Terbuka Tiongkok

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:45 WIB