in

Wahai Perempuan, Ayo Buka Rekening

Anna Gincherman

BUSINESSTODAY, JAKARTA – Inklusi keuangan perempuan dimulai dengan membuka rekening tabungan. Mengapa mengincar perempuan? Ya, karena perempuan merupakan setengah dari penduduk Indonesia dan jadi pilar utama ekonomi.

Namun hampir setengah dari mereka (49%) tetap berada di luar sektor keuangan formal. Eksklusi keuangan selama ini memang membuat perempuan belum menyadari potensi ekonomi mereka.

Untuk membuat perempuan menjadi prioritas dalam Strategi Inklusi Keuangan Nasional, pemerintah Indonesia mendorong semua pemangku kepentingan dalam industri jasa keuangan untuk membuka peluang sektor keuangan bagi perempuan, yang harus dimulai dengan rekening tabungan.

Hal ini berkaitan juga dengan preferensi politik pemerintah yang belakangan ini lebih menjadikan kelompok perempuan sebagai potensi besar yang harus dikembangkan.

UNGGUL DALAM BISNIS

Perempuan adalah pelanggan yang lebih setia dan dapat diandalkan dalam menjalankan usaha bisnis. Selama ini pendampingan yang dilakukan kepada kelompok usaha perempuan, seperti misalnya Amartha atau Program Mekar dari PNM, menunjukkan bahwa jumlah NPL atau ‘kredit macet’ dari kreditur perempuan sangatlah rendah.

Demikian pula profil usaha bisnis perempuan di usaha bisnis retail, khususnya di usaha bisnis daring. Salah satu toko daring di Indonesia mencatat bahwa perempuan sangat mendominasi dalam hal berbelanja daring, baik sebagai pembeli maupun sebagai penjual.

Menurut data yang mereka miliki, proporsi pembeli dari kalangan perempuan mencapai 66,28%, sedangkan penjual dari kelompok perempuan adalah 55,75%.

Jika negara ingin sepenuhnya memanfaatkan potensi segmen ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, memberi mereka akses ke produk keuangan dan sumber daya dasar seperti rekening tabungan di layanan keuangan formal, merupakan langkah pertama yang sangat penting.

Banyak kemajuan telah dicapai dalam beberapa tahun terakhir dalam industri keuangan formal. Global Findex 2017 menunjukkan bahwa Indonesia terus meningkatkan inklusi keuangan dari 20% pada 2011, kemudian meningkat menjadi 36% pada 2014 dan 49% pada tahun 2017.

Perempuan justru lebih cepat peningkatan daripada laki-laki. Pada 2014 inklusi keuangan perempuan hanya 37,5%, namun pada 2017 meningkat tajam menjadi 51%.

Tanpa fokus yang berkelanjutan pada upaya mendorong keuangan inklusif ini, peningkatan ini mungkin saja akan menurun kembali. Perempuan Indonesia menghadapi banyak tantangan terhadap akses keuangan, seperti misalnya permasalahan kultural dan juga struktural.

Upaya mendorong akses perempuan Indonesia kepada sektor keuangan formal membutuhkan kerja sama dan kolaborasi dalam seluruh ekosistem keuangan, dari pemerintah, penyedia layanan keuangan, (termasuk pelaku lain yang mendukung seperti agen pembangunan, organisasi nirlaba) dan para perempuan itu sendiri.

TARGET PRIORITAS

Menyadari potensi perempuan untuk mendorong kesejahteraan sosial dan pembangunan ekonomi, pemerintah Indonesia menetapkan perempuan sebagai salah satu target prioritas dalam SNKI.

Dalam menetapkan perempuan sebagai prioritas di tingkat tertinggi, Presiden Joko Widodo telah menetapkan langkah dan standar untuk semua pemangku kepentingan keuangan di negara ini. Salah satunya misalnya melalui program PKH yang berfokus pada bantuan ekonomi keluarga di mana perempuan memiliki peran sentral.

Pemerintah juga memimpin muatan dalam mengkoordinasikan berbagai program di bawah satu payung, yakni pembentukan Sekretariat DNKI sebagai titik simpul bagi upaya menjalankan SNKI.

Di antara peran utamanya adalah memfasilitasi berbagi pengetahuan tentang praktik terbaik untuk mendorong inovasi dan tindakan di antara semua pemangku kepentingan inklusi keuangan, seperti misalnya melalui diskusi terbatas yang diadakan hari ini (Selasa, 8 Mei 2018) di Jakarta.

Diskusi terbatas yang merupakan kerja sama Sekretatiat Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) dengan Women’s World Banking menyelenggarakan diskusi terbatas yang bertujuan untuk:

Pertama, membahas potensi perempuan sebagai segmen pasar utama bagi industri jasa keuangan dan dampak turunannya untuk mempromosikan akses perempuan kepada akses dan layanan keuangan.

Kedua, berbagi wawasan pasar dan praktik terbaik internasional dalam melayani perempuan di sektor finansial.

Ketiga, membahas tantangan saat ini bagi perempuan Indonesia melalui pembelajaran dari para pakar dan pelaku bisnis untuk mendorong solusi konkrit dan dapat ditindaklanjuti.

Keempat, menggalang dukungan dan kolaborasi di antara pelaku sektor publik dan swasta untuk mengembangkan layanan keuangan dan akses keuangan bagi perempuan.

Bagaimana perbankan dapat memulai membuka peluang sektor keuangan bagi perempuan? Sebagaimana telah ditunjukkan oleh beberapa lembaga yang memberikan layanan keuangan yang hadir dalam diskusi terbatas ini, melayani pasar usaha perempuan adalah proposisi yang sangat memiliki prospek dan berkelanjutan.

Meskipun upaya untuk memberikan layanan keuangan kepada perempuan telah dilakukan, sebagian besar lembaga keuangan masih belum memiliki strategi untuk mencapai segmen pasar ini.

Menurut Women’s World Banking, lembaga global yang memimpin gerakan inklusi keuangan perempuan, langkah pertama yang harus diambil oleh penyedia layanan keuangan untuk mulai melayani perempuan adalah memahami kehidupan keuangan, kebutuhan, dan hambatan mereka dalam mengakses keuangan.

Anna Gincherman, Wakil Presiden Kemitraan Strategis dan Pengembangan Bisnis di Women’s World Banking, mengatakan bahwa hasil penelitian menunjukkan perempuan berpenghasilan rendah selama 40 tahun terakhir.

“Dengan memahami kehidupan perempuan, dapat dirancang produk dan layanan untuk memenuhi kebutuhan mereka,” katanya.

Namun ada beberapa hal yang tidak berbeda antarnegara. “Berkali-kali, kami telah menemukan bahwa perempuan di seluruh dunia biasanya adalah manajer keuangan rumah tangga dan mereka adalah penabung dalam keluarga,” katanya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tabungan adalah pintu gerbang menuju inklusi keuangan bagi perempuan.

Namun demikian, ternyata sebagian besar perempuan Indonesia memiliki rekening tabungan di bank sesuai dengan data Global Findex 2017.

Sementara itu, masih ada sebesar 22% perempuan Indonesia yang menabung secara informal. Beberapa di antaranya karena hambatan yang mereka hadapi:

Pertama, hambatan budaya dan kelembagaan.

Kedua, tingkat melek huruf dan pendidikan yang rendah.

Ketiga, peraturan perundang-undang dan praktik yang masih diskriminatif.

Keempat, kendala waktu.

Anna menjelaskan bahwa mengembangkan rekening tabungan untuk perempuan adalah dengan memberikan kenyamanan, keandalan, kerahasiaan, dan keamanan.

Bagian yang terbaik adalah, ketika penyedia jasa keuangan mendesain produk dengan menempatkan perempuan dalam pikirannya. “Pengalaman kami menunjukkan bahwa apa yang berhasil untuk perempuan, berlaku juga untuk laki-laki.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *