in

Waduh Ada Resesi Ekonomi Nih, Daganganku Jangan Ngikut ya

Langit tidak selamanya mendung atau hitam. Adakalanya langit terang untuk menerangi alam semesta. (Foto: Anakdagang.com)

Businesstoday.id – Saya baca berita online bahwa resesi ekonomi sudah berjalan mengancam perekonomian Indonesia, bahkan seluruh negara dunia.

Ini seru. Sekaligus tantangan.

Sebagai pedagang, kondisi perekonomian sudah kebaca akan mengalami guncangan itu akhir tahun 2019, awal tahun 2020 saya tulis di facebook.

Guncangan resesi ini semakin keras ketika datang virus covid-19, jadilah semakin cepat kerusakannya.

Warung saya juga terkena dampaknya, setengah dari omset dagang tergerus. Bahkan lebih. Pendapatan menurun antara bulan maret, april, mei, juni, sampai juli. Bingung banget.

Sampai-sampai temenku tanya, “Apakah dagangmu juga kena (maksudnya turun omsetnya)?”

“Ini nggak main-main harus segera diperbaiki semuanya. Kalo nggak makin parah?” Jawabku pada temenku itu.

Beberapa barang yang kurang laku, saya hentikan kulakannya. Belanja hanya produk-produk yang bener-benar cepat kejual aja.

Di lain sisi, pelangganku juga sama pemasukan pendapatannya berkurang. Bahkan beberapa pabrik saat itu menutup kegiatan produksi. Pegawai dirumahkan. Nggak ada pendapatan.

Saat mereka datang ke warung untuk belanja, jadilah nyatet (berhutang). Sebenarnya saya agak khawatir, karena memang kondisi keuangan warung juga nggak menentu. Malah kurang sehat.

Pilihan sulit, antara membantu mereka, pelanggan saya ini. Tapi resikonya keuangan warung makin tidak stabil.

Atau membiarkan mereka kesulitan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kasihan juga.

Akhirnya saya putuskan membantu, ya sudah nggak apa, bismilah saja.

Apakah saya stress? Iya.

Apalagi Mamah kena tipu bulan mei terkait dengan bisnis berasnya. Aduuhhh.

Uang dagang ikut keseret. Makin jomplang.

Pusinggggg..

Dagang bener-bener stagnan pada bulan-bulan itu.

Karena terlalu mikirin tentang kondisi dagang yang loyo dan keuangan yang urak-urakan, kecapean, dan masuk angin, akhirnya saya tumbang di bulan juli. Sakit selama kurang lebih dua minggu.

Kala itu sangat pesimis.

Isteriku sangat memahami, ketika saya mengurangi jatah nafkahnya. saya ceritakan pada dia kondisi jualan.

Dan karena dia pun aktif di koperasi Baitul Mal wa Tamwil di daerahnya. Dia tahu persis kondisi ekonomi di lapangan.

Kata dia, “Nggak apa, sedikasihnya aja. Bersyukur aja.”

Ini menjadi support tersendiri bagi saya. Nambah semangat..

Bismillah. Berdoa, berusaha dan bertawakal.

Memasuki bulan agustus, mulai ada titik cerah, semoga jualan semakin rame, lebih pulih dan lebih maju lagi.

Memang langit tidak selamanya mendung atau hitam. Adakalanya langit terang untuk menerangi alam semesta..

Kata pak Aziz dosenku ketika mampir ke warung bilang, “Harus buka cabang leh.”

“Amiin.. hahaha..” Jawabku sambil tertawa.

Saya bersyukur, diberikan kesempatan sama gusti Allah untuk merasakan dan menghadapi kondisi (resesi) ekonomi yang seru ini. Sebagai pengalaman hidup yang keren.. hehehe

Oleh : Ahmad Sholeh, Pedagang Sembako

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *