in

Peraturan Atap Panel Surya Segera Terbit

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan.

Businesstoday.id, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan peraturan mengenai panel surya pemasangan di atap rumah atau rooftop akan segera terbit.

“Sebentar lagi, sebulan lagi tidak sampai, minggu ini terbit kok aturan rooftop,” kata Jonan di Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Menurut Jonan, penyelesaian peraturan pemasangan panel surya tersebut hanya menunggu penyelesaian penulisan redaksional saja.

Sebelumnya, dalam rancangan peraturan tersebut pemerintah membolehkan semua pelanggan PLN, di luar konsumen industri, seperti golongan bisnis, pemerintah dan rumah tangga, melakukan pemasangan rooftop panel surya. Konsumen PLN pada golongan tersebut diperkirakan mencapai 2/3 dari jumlah konsumen PLN.

“Arahan Bapak Presiden, Beliau minta coba bikin peraturan rooftop solar panel, dan 1-2 minggu ini peraturannya keluar, kita akan sosialisasi besar-besaran,” ujar Menteri ESDM.

Jonan menambahkan jika sudah memasang rooftop panel surya, konsumen dapat menjual listrik yang dihasilkannya ke PLN, dengan tata kelola harga yang diatur dalam peraturan penggunaan rooftop panel surya.

“Itu boleh pasang rooftop sendiri, nanti dia jual listriknya ke PLN, jual beli. Siang tidak pakai lampu dan AC, karena orangnya pergi, listriknya dijual ke PLN, malam dia beli lagi ke PLN,” jelasnya.

Penerbitan peraturan penggunaan rooftop panel surya ini bertujuan untuk memenuhi komitmen bauran energi baru terbarukan (EBT), masyarakat juga bisa berinvestasi dengan memasang rooftop panel surya, sehingga bisa terjadi jual beli listrik. Selain itu, masyarakat bisa melakukan penghematan listrik.

Menurut Jonan, penghematan yang bisa dilakukan dengan adanya rooftop panel surya cukup signifikan, Ia mencontohkan rooftop panel surya yang sudah dipasang di rumah pribadinya sebesar 15,4 kWp dengan harga Rp200 juta. Kini, setiap bulan hanya membayar tagihan sebesar sekitar Rp1 juta, dari sebelumnya Rp4 juta-Rp5 juta.

“Paling kurang hemat Rp2-3 juta per bulan, setahun mungkin bisa Rp30 juta – Rp40 juta. Dalam 5 tahun, kembali dong uangnya,” tutup Jonan. (asn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *