in

MRT Simbol Kemajuan Jakarta

MRT dinilai sebagai transportasi berdaya angkut besar (mass) dengan waktu tempuh cepat (rapid) dan berhenti di titik-titik strategis utama perkotaan.

Businesstoday.id, Jakarta – Macet bagai “kanker” ganas di Jakarta dengan kondisi menahun, yang sulit disembuhkan oleh para pemimpin kota terbesar di Indonesia ini dari masa ke masa.

Dalam sebuah berita di surat kabar pada Juli 1965, diceritakan keadaan lalu lintas Jakarta yang mulai mengalami kondisi padat.

“Seorang rekan wartawan tinggal di Senajan, Kebajoran. Orangnja gesit tak soeka menjeleweng di djalan. Tiap pagi berangkat dari roemah dengan mobil djam 7.15 sampai di kantornja, Pintoe Besar Selatan, djam 08.00. Berarti 45 menit. Djarak Senajan-Pintoe Besar Selatan 12 kilometer. Djadi gerak mobil itoe perdjamnja hanja 16 kilometer, sama dengan ketjepatan sepeda,” tulis berita tersebut dalam ejaan lama.

Berdasarkan data BPS pada 2016, jumlah semua kendaraan baik bus, truk, roda empat dan roda dua yang ada di Jakarta sebanyak 18.006.404 unit, belum termasuk kendaraan dinas yang dimiliki TNI, Polri dan kendaraan tidak terdaftar.

Dengan pertumbuhan jumlah kendaraan (5,35 persen dalam lima tahun), dibandingkan ketersediaan infrastruktur jalan yang relatif tetap (0,1 persen per tahun), menjadikan kota ini sulit lepas dari jeratan kemacetan.

Bahkan dengan kemacetan yang hampir tiap hari terjadi di Jakarta, menurut pakar bidang bioteknologi lingkungan dari Universitas Indonesia Firdaus Ali, menimbulkan potensi kerugian mencapai Rp28,1 triliun per-tahun, meliputi biaya bahan bakar, biaya kesehatan (akibat polusi tinggi) dan nilai waktu yang terbuang.

“Jumlah ini adalah angka yang cukup besar karena waktu produktif yang terbuang sia-sia,” katanya.

Tidak ingin kalah cepat, untuk menanggulangi kemacetan Jakarta, Pemprov DKI dari waktu ke waktu terus membuat berbagai terobosan. Mulai dari kebijakan penerapan sistem “three in one” (3 in 1), pembangunan jalan layang (fly over) dan terowongan (under pass), penyediaan sarana transportasi TransJakarta, Light Rail Transit (LRT) hingga yang teranyar adalah pembangunan sarana transportasi baru berbasis rel layang dan bawah tanah bernama Moda Raya Terpadu.

Mass Rapid Transit (MRT)

Banyak yang menilai bahwa MRT adalah Moda Raya Terpadu. Namun ada pendapat lain yang mengatakan pengertiannya lebih luas, dengan mencakup beberapa jenis moda transportasi.

MRT dinilai sebagai transportasi berdaya angkut besar (mass) dengan waktu tempuh cepat (rapid) dan berhenti di titik-titik strategis utama perkotaan (transit), baik itu bus, LRT, komuter (KRL) dan metro (kereta bawah tanah).

Sejatinya, konsep MRT di Indonesia sudah dicetuskan sejak 1986 oleh Bacharuddin Jusuf Habibie saat menjabat Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Ketika itu, ada empat studi yang dimaksud Habibie yakni: Jakarta Urban Transport Program (1986-1987), Integrated Transport System Improvement by Railway and Feeder Service (1988-1989), Transport Network Planning and Regulation (1989-1992) dan Jakarta Mass Transit System Study (1989-1992).

Studi-studi ini kemudian dibawa oleh Sutiyoso, saat menjabat Gubernur DKI Jakarta yang selama 10 tahun pemerintahannya (1997-2007) setidaknya ada dua studi dan penelitian yang dijadikan landasan pembangunan transportasi MRT.

Pada 2004, Bang Yos panggilan akrab Sutiyoso, lantas mengeluarkan Keputusan Gubernur tentang Sistem Transportasi Makro untuk mendukung skenario penyediaan transportasi massal terintegrasi di Jakarta antara yang menggunakan jalan dengan yang berbasis rel mulai 2004 hingga 2020.

Bus Rapid Transit

Di Jakarta sendiri, telah ada kereta komuter dengan rel listrik (KRL) yang memiliki jalur melingkari kota dan memanjang hingga ke wilayah penyangganya di Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi yang dapat terkategori sebagai Mass Rapid Transit.

Dirasakan kurang memadai karena masih banyak wilayah yang tidak terjangkau sementara kemacetan terus terjadi, akhirnya digagas berbagai model transportasi lainnya, salah satunya adalah dengan bus.

Sejak idenya muncul 2001, pada 15 Januari 2004, pemerintah DKI Jakarta mulai mengoperasikan Mass Rapid Transit berbentuk bus kota dengan jalur khusus, yang dikenal Transjakarta.

Saat mulai digulirkan, banyak perusahaan bus yang menolak keberadaannya karena alasan persaingan bisnis. Hingga akhirnya Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, menggandeng para perusahaan bus untuk terlibat langsung menjadi operator.

“Mereka ditunjuk langsung,” kata Bang Yos kala itu.

Transjakarta semakin populer. Bahkan, saat ini Transjakarta yang dirancang sebagai moda transportasi massal pendukung aktivitas ibu kota yang sangat padat, sudah memiliki 1.300 armada dengan jalur lintasan 230,9 km, serta memiliki 243 stasiun di 13 koridor.

Light Rail Transit

Setelah cukup sukses dengan Transjakarta yang kini mampu mengangkut 500 ribu penumpang per-hari, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melanjutkan pembangunan transportasi di ibu kota.

Keingian untuk mengurai kemacetan Jakarta terus menggebu. Bermula dengan tersendatnya pembangunan transportasi dengan rel melayang (Monorail) pada 2013, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama memilih untuk membangun Light Rail Transit (LRT).

LRT sendiri dibagi menjadi dua, yakni LRT Jabodetabek yang menghubungkan Jakarta dengan kota-kota di sekitarnya seperti Bekasi dan Bogor yang dibangun oleh PT Adhi Karya dengan dioperasikan oleh PT KAI. Sedangkan LRT dalam kota, dibangun oleh Pemprov DKI Jakarta dan dioperasikan Jakarta Propertindo (Jakpro).

LRT dalam kota, telah mulai membangun jalur Koridor I (Kelapa Gading-Velodrome Rawamangun) sepanjang 5,8 km dan telah diujicoba pada 15 Agustus 2018.

Namun, proyek LRT Koridor I ini, secara keseluruhan baru mencapai 90 persen. Ketika proyeknya rampung dan beroperasi, Direktur Proyek LRT PT Jakpro Iwan Takwin menyebut, sarana transportasi ini akan menghemat waktu perjalanan masyarakat.

“LRT Koridor I ini diperkirakan memakan waktu tempuh selama 13 menit. Per stasiunnya menghabiskan waktu 1 menit hingga 2,5 menit,” ujarnya.

LRT fase I koridor Kelapa Gading-Velodrom ini secara paralel akan dilanjutkan dengan pembangunan fase II koridor Velodrom-Dukuh Atas-Tanah Abang, sebelum beralih ke jalur lainnya yang direncanakan akan ada tujuh.

Moda Raya Terpadu

Sementara LRT masih dalam pengembangan, di waktu bersamaan DKI mengembangkan moda transportasi berbasis rel lainnya yakni Moda Raya Terpadu.

Moda Raya Terpadu ini, menggunakan kereta berkinerja tinggi, digerakkan secara elektrik, beroperasi di jalur eksklusif tanpa jalur persilangan, dengan peron stasiun besar yang secara internasional disebut dengan istilah “Metro”.

Dirintis sejak 2006, dengan skema pinjaman lunak dari Jepang, 10 Oktober 2013, pengerjaan proyek ini resmi mulai digarap dengan peletakan batu pertama di atas lahan yang rencananya berdiri Stasiun Dukuh Atas, salah satu kawasan paling sibuk di Jakarta Pusat, yang jadi konsentrasi pertemuan berbagai moda transportasi umum.

Sejak rampungnya jalur Fase I Lebak Bulus-Bundaran HI (16 km) sarana transportasi yang diberi nama Moda Raya Terpadu oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, akan diujicobakan pada publik mulai 26 Februari 2019 dengan target beroperasi komersial pada 24-31 Maret 2019.

“Nanti Lebak Bulus-Bundaran HI dapat ditempuh dalam waktu 30 menit,” ucap Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar.

Simbol kemajuan

Dengan adanya berbagai moda transportasi yang akan terus dikembangkan, menurut pengamat transportasi dari Institut Studi Transportasi (Instra) Deddy Herlambang, dapat dikatakan menjadi simbol kemajuan Jakarta yang dapat disejajarkan dengan kota lainnya di dunia seperti New York, Tokyo, London dan kota lainnya yang memiliki predikat kota pintar.

“Dengan banyaknya pilihan angkutan umum, otomatis tercipta satu kota cerdas (smart city) dalam transportasi, di mana semakin cepat pergerakan orang dari satu tempat ke tempat lain,” ujar Deddy saat dihubungi.

Walau saat ini berbagai moda transportasi akan mengakomodir mobilitas masyarakat Jakarta yang menjadi masalah selanjutnya adalah bagaimana mengintegrasikan semuanya untuk memenuhi kebutuhan warga Jakarta.

“Bagaimana caranya agar tetap ada koneksi antar moda transportasi, tentu harus disesuaikan dengan permintaannya, yakni masyarakat smart city,” ujar Deddy.

Dalam mengintegrasikan moda transportasi ibu kota agar lebih mudah diakses dan dikelola dengan baik, Pemprov DKI Jakarta mulai dengan konsep Jak Lingko yang mengintegrasikan moda berbasis jalan raya (Transjakarta dan angkutan kecil).

Jak Lingko bermakna, Jak berarti Jakarta; Lingko yang berarti jejaring atau integrasi yang diambil dari sistem persawahan tanah adat di Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Lingko berbentuk seperti jaring laba-laba yang terintegrasi.

Program ini juga akan diintegrasikan dengan moda transportasi lainnya yakni LRT dan Moda Raya Terpadu, mulai dari infrastruktur yang akan saling bertemu di titik yang disebut dengan kawasan Transit Oriented Development (TOD), hingga pengelolaan tarif dan manajemennya melalui pembentukan perusahaan gabungan (joint venture) yang masih dalam tahap pembahasan.

“Ini akan segera dirampungkan, harapannya agar masyarakat bisa lebih mudah mengakses transportasi publik dengan jarak maksimal ke halte sekitar 500 meter, akhirnya akan meninggalkan kendaraan pribadi untuk beraktivitas dan otomatis menanggulangi kemacetan di Jakarta,” ujar Gubernur Anies Baswedan.

MRT Jakarta sudah mulai digelar. Simbol baru transportasi modern sudah hadir. Selain memecahkan persoalan kemacetan di Jakarta, meningkatkan produktifitas masyarakat Jakarta dan sekitarnya, MRT selanjutnya diharapkan dapat menjangkau hingga ke wilayah metropolitan lainnya yaitu Bodetabek. (ric)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *