in

Mengulik Makna Tulisan Sunda Kawi di Prasasti Batu Tulis

Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto di lokasi Prasasti Batu Tulis. (Foto : instagram)

Hallobogor.com, Kota – Prasasti Batutulis merupakan peninggalan dari Kerajaan Galuh Pakuan atau sering juga disebut dengan Pakuan Pajajaran atau Pajajaran. Sebuah kerajaan Hindu yang sejak abad ke 11 hingga abad ke 16.

Prasasti ini dibangun oleh Prabu Surawisesa yang berkuasa di kerajaan tersebut antara tahun 1521-1536. Pembuatan prasasti ini ditujukan sebagai penghormatan kepada ayahandanya, raja pendahulunya yang sangat terkenal, yaitu Prabu Siliwangi (1482-1521).

Tahun pembuatan yang tertera pada prasasti atau Batu Utama menyebutkan angka 1455. Sistem kalendar yang umum digunakan pada masa tersebut adalah tahun Saka. Tahun ini sama dengan tahun 1533 Masehi.

Versi lain menyebutkan bahwa prasasti dibuat sebagai bentuk penyesalan sang Prabu Surawisesa karena tidak mampu mempertahankan keutuhan wilayah Pakuan Pajajaran, Pada saat itu pasukannya kalah dalam pertempuran melawan Kesultanan Cirebon yang berujung hilangnya sebagian wilayah.

Versi yang manapun, ada satu hal yang hampir pasti. Prasasti Batu Tulis adalah sebuah situs penting di masa lalu. Disinilah terjadi berbagai aktifitas penting kenegaraan seperti penobatan raja baru.

Sembilan Baris Aksara Sunda Kawi

Tidaklah mungkin tentara Banten mengambil Batu Gigilang bila batu tersebut tidak dianggap sangat penting bagi kelangsungan kerajaan musuhnya.

Prasasti Batu Tulis pertama kali ditemukan oleh sebuah ekspedisi VOC ((Vereenigde Oost Indische Compagnie)/Persatuan Dagang Hindia Timur) pada tahun 1687, pemimpinnya adalah Scipio.

Berita penemuan Prasasti Batu Tulis pertama kali tercatat dalam laporan ekspedisi Scipio tersebut bertanggal 28 Juli 1687.

Penelitian tentang Prasasti Batu Tulis sudah dilakukan oleh banyak ahli arkeologi dan sejarah sejak masa lampau. Tercatat tahun 1853 Friedrich, seorang ahli Belanda yang juga diduga sebagai penemu patung Lembu Nandi di Kebun Raya Bogor.

Terjemahan 9 baris tulisan aksara Sunda Kawi

Hingga peneliti sejarah Bogor, Saleh Danasasmita yang menelitinya antara tahun 1981-1984.

Nama yang terakhir inilah yang kemudian menyusun ulang teks yang tertulis pada Prasasti Batu Tulis. Dari sinilah beberapa kesimpulan penting tentang asal muasal situs ini mulai terkuak.

Beliaulah yang akhirnya mengeluarkan terjemahan resmi dari 9 baris yang tergores pada prasasti. Tulisan dan terjemahan dari ke 9 baris pada Prasasti Batu Tulis tersebut adalah sebagai berikut :

Oo wang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu Diya wingaran prebu guru dewataprana diwastu diya dingaran sri Baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu deWata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dew anis-kala sa(ng) sidamoka di Gunatiga, i(n) cu rah rahyang niskala wastuKa(n) cana sa(ng) sidamokta ka nusa larang, ya siya nu nyiyan sakaka- La gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghyang talaga Rena mahawijaya, ya siya pun 00 1 saka, panca pandawa (m) ban bumi 00 “

Artinya : “Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Prabu Ratu Suwargi. Ia dinobatkan dengan gelar Prabuguru Dewataprana; dinobatkan (lagi) ia dengan gelar Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang  membuat parit (pertahanan) di Pakuan. Dia anak Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang Di Gunutiga, cucu Rahiyang Dewa Niskala Wastu Kencana yang mendiang ke Nusalarang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu, membuat (hutan) samida, membuat telaga Rena Mahawijaya. Ya dialah (yang membuat semua itu). (Dibuat) dalam (tahun) Saka 1455”. 

Berdasarkan sumber-sumber sejarah Cina, nama kerajaan Sunda (Sun-ta) dan Portugal (Regno de Cumda) berdiri sekitar abad ke 14-15 M, dan sebuah prasasti dari abad ke 15 M menyebutkan nama Prabu Wastu yang bertahta di Kawali dengan istananya yang dinamai Surawisesa.

Setelah Prabu Wastu meninggal digantikan oleh putranya yaitu Rahyang Ningratkancana atau Dewa Niskala. Ketika Dewa Niskala meninggal, ia digantikan oleh putranya yang bernama Sri Baduga Maharaja yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran.

Demikian, beliau berkuasa sebagai raja kerajaan Sunda di Kawali tempat kedudukan ayah dan kakeknya dan berkuasa di Pakuan Pajajaran sebagaimana yang dinyatakan dalam Prasasti Batu Tulis. 

Prasasti Batu Tulis dijadikan sebagai objek wisata sejarah, karena merupakan salah satu prasasti peninggalan masa Kerajaan Pajajaran, yang dahulu pernah berkembang dan cemerlang pada masanya.

Seperti dikutip dari situs Disparbud Pemprov Jawa Barat, prasasti ini dapat menumbuhkan rasa kebanggaan dan nasionalisme bangsa. Objek ini letaknya relatif strategis karena berada di tengah Kota Bogor. (*)

Alamat :
Jl. Raya Batu Tulis No. 54, Kel. Batu Tulis, Kec. Bogor Selatan, Kota Bogor 16133.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *