in

Kuliner, Kriya dan Fashion, Penyumbang Terbesar Ekonomi Kreatif

Businesstoday.id, Jakarta – Sektor ekonomia kreatif, terbukti bisa sumber dan kekuatan ekonomi baru. Di tengah melambatnya harga komoditas dan bahan mentah secara global, sektor ekonomi kreatif, memberikan sumbangan yang positif bagi perekonomian Indonesia.

“Ekosistem bisnis belum dukung pengembangan ekonomi kreatif”

“Di masa depan, ekonomi tidak semata-mata, bergantung pada sumber daya alam mentah,” tegas Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf dalam acara Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 khusus 3 Tahun Jokowi-JK di Kantor Staf Presiden, Selasa, (17/10/2017).

BACA JUGA : Berita dan informasi lainnya, seputar dunia koperasi, usaha kecil, dan menengah.

Hadir dalam kegiatan tersebut Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dan Kepala BKPM Thomas Lembong.

Tugas ekonomi kreatif adalah memberikan nilai tambah. Sehingga dapat menghasilkan produk yang bernilai tinggi dan berkontribusi besar pada perekonomian.

Berdasarkan data terakhir, dalam catatan Triawan Munaf, ekonomi kreatif memberikan kontribusi sebesar 7,38 persen terhadap total perekonomian nasional dengan total PDB sekitar Rp. 852,24 Triliun.

“Dari total kontribusi tersebut, sub-sektor kuliner, kriya dan fashion memberikan kontribusi terbesar pada ekonomi kreatif,” jelas Triawan.

Tercatat sub-sektor Kuliner berkontribusi sebesar 41,69%, disusul sub-sektor Fashion sebesar 18,15% dan Kriya sebesar 15,70%. Kepala Bekref juga menambahkan bahwa terdapat sekitar empat sub-sektor yang juga sangat potensial menjadi kekuatan ekonomi baru yakni Film, Musik, Art dan Game (Animasi).

Empat sub-sektor ini tercatat mengalami pertumbuhan paling pesat, yakni Film mencatatkan pertumbuhan sekitar 10,28%, Musik 7,26%, Art/Arsitektur 6,62% dan Game tumbuh sekitar 6,68%.

Namun Triawan menyampaikan ada beberapa hambatan dan kendala dalam pengembangan ekonomi kreatif ini, terutama terkendala oleh ekosistem bisnis dan investasi.

Menurutnya, ekosistem bisnis nasional belum mendukung dalam proses pengembangan ekonomi kreatif, terutama dalam hal infrastruktur untuk menunjang kegiatan kreatif para pelaku usaha ekonomi kreatif dan masyarakat.

Kedua, menurutnya, banyak sektor ekonomi kreatif yang masih masuk dalam daftar negatif investasi, terutama untuk investasi asing. Padahal menurutnya adanya investasi masuk berperan penting untuk menunjang minimnya infrastuktur dan teknologi dalam negeri.

“Kita bisa bekerja sama, menjalin co-production, dari sini kita bisa mengembangkan film nasional misalnya. Itu bisa membantu dan positif untuk perekonomian”, katanya

Namun Triawan mengaku Badan Ekonomi Kreatif masih terus melakukan upaya untuk mengembangkan sektor kreatif di Tanah Air. Terutama dalam hal ketersediaan data dan informasi statistik yang menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan serta keputusan, baik bagi pemerintah maupun pelaku ekonomi kreatif. (nwi)