in

Kiprah Jona di Kajian Indonesia-Tiongkok

Jona Widhagdo Putri

BUSINESSTODAY, Wuhan: Satu lagi muncul Pusat Kajian AntarMasyarakat Indonesia-Tiongkok. Kali ini berada di Central China Normal University (CCNU) yang diresmikan pada 22 April 2018 di Wuhan.

Selain di CCNU sudah ada tujuh Pusat Kajian Indonesia atau Pusat Kajian Indonesia-Tiongkok lainnya yang telah berdiri di Fujian Normal University, Hebei Normal University, Guangdong University of Foreign Studies, Beijing Foreign Studies University, Huaqiao University, Jinan University, Guangxi University for Nationalities.

Pada acara peresmian Pusat Kajian tersebut, perwakilan peneliti dari Indonesia juga hadir untuk berbagi pemikiran konstruktif bagi pengembangan pusat kajian, Hanief Saha Ghafur (Ketua PBNU), Arie Setiabudi Soesilo (Dekan FISIP Universitas Indonesia), dan pengamat hubungan internasional dari FISIP Universitas Indonesia yaitu Jona Widhagdo Putri dan Yuniwati Prayino.

Lokasi pendirian Pusat tersebut berakar di institusi pendidikan tinggi. Tujuan utama pusat tersebut adalah untuk meningkatkan kerja sama dua arah dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, serta menghasilkan kajian yang bermanfaat bagi masyarakat dan memberikan masukan untuk hubungan kedua negara.

Hubungan antarmasyarakat yang baik dan mendalam adalah fondasi utama untuk hubungan kedua negara yang sehat, stabil dan berkelanjutan. Hubungan Indonesia-Tiongkok, dua negara yang memiliki populasi 1,66 miliar ini, bukan hanya berpengaruh dalam level hubungan bilateral, namun juga dapat memberikan dampak di kawasan dan bahkan di level global.

HUBUNGAN DAGANG

Jona menjelaskan bahwa hubungan Indonesia dan Tiongkok dalam bidang ekonomi dan perdagangan telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Tiongkok adalah mitra dagang terbesar Indonesia, dalam 5 tahun terakhir (2012-2017) realisasi investasi atau FDI dari Tiongkok melonjak dari peringkat ke-12 ke peringkat ke-3.

Namun hubungan antarmasyarakat kedua negara masih perlu ditingkatkan, mengingat populasi Tiongkok yang mencapai 1,4 miliar jiwa dan Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi terbesar ke-4 di dunia yang mencapai 260 juta orang dan akan terus meningkat dengan adanya bonus demografi.

Jona mengatakan bahwa memang cukup banyak warga negara Indonesia yang merupakan keturunan etnis Tionghoa. Dari kelompok etnis tersebut dapat dipelajari sebagian dari budaya dan sejarah Tiongkok. “Namun mereka tidak mewakili Tiongkok secara menyeluruh,” katanya Rabu (23 April 2018) di Wuhan.

Hubungan Indonesia dan Tiongkok pada 1967-1990, memang mengalami pasang surut sehingga banyak gap pemahaman antara kedua negara yang harus diperjelas. Tiongkok adalah negara yang memiliki 56 etnis, tersebar di wilayah seluas 9,6 juta km2, di mana setiap etnis mempunyai latar sejarah, sosial budaya dan agama atau kepercayaan yang beragam.

Agama Islam diperkenalkan di Tiongkok sejak 1.400 tahun yang lalu, sekitar 10 kelompok etnis diklasifikasikan sebagai etnis muslim, di mana populasi muslim terbesar tersebar di provinsi Gansu, Xinjiang, Yunnan, dan Qinghai.

Di banyak kota di Tiongkok dapat ditemukan rumah makan halal dan tempat ibadah untuk beragam agama, ujarnya.

RAGAM INDONESIA

Sama halnya dengan Indonesia, apabila hanya pernah datang ke Jakarta atau Bali saja, rasanya tidak cukup untuk dapat mendapat gambaran tentang Indonesia secara menyeluruh. Setiap wilayah memiliki keragaman sejarah, sosial budaya dan kearifan lokal sendiri, mungkin masih banyak dari kita, warga negara Indonesia, yang belum pernah menjelajah dari Merauke sampai Sabang, dari Miangas hingga pulau Rote.

Perlunya pemahaman yang lebih dalam tentang masyarakat antarkedua negara inilah yang menjadi satu di antara alasan mulai banyak didirikannya Pusat Kajian Indonesia atau Pusat Indonesia-Tiongkok di beberapa universitas di Tiongkok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *