in

Ketoprak Finansial, 3 Selir Cantik Aryo Penangsang

Para pendukung Arya Penangsang

Businesstoday, JAKARTA – Apa jadinya kolaborasi wartawan dengan bankir? Ternyata bukan sekadar berita, akan tetapi jadilah Ketoprak Finansial.

Itulah yang digagas oleh wartawan senior Eko B. Supriyanto, pemimpin redaksi Infobank. “Ini produk yang ke-17,” katanya.

Eko memangaktif mengkoordinasi komunitas masyarakat keuangan, perbankan, BUMN, ekonom hingga Anggota DPR Komisi XI yang membidangi keuangan dan kalangan media massa dalam melestarikan budaya Jawa, khususnya seni peran tradisional ketoprak.

Suguhannya bisa dinikmati publik di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, pada Rabu, 31 Januari 2018. Pertunjukan yang renananya dimulai pukul 19.00 wib molor lantaran pas terjadinya gerhana bulan total, sehingga kisah Arya Penangsang baru tamat pukul 23 lewat.

TIGA SELIR

Tiga selir cantik milik Aryo Penangsang

Arya Penangsang, diperankan oleh Muhammad Edhie Purnawan, anggota Badan Supervisi Bank Indonesia sekaligus guru besar FEB Universitas Gadjah Mada. Ia punya tiga selir yaitu Susanti Bintang (ATM Prima), Lies Permana Lestari (Sarinah), dan Aprevyta, Pimpinan Redaksi Global TV.

Gelaran ketoprak ini makin riuh lantaran 50 pemain dari kalangan praktisi dan regulator perbankan, asuransi, multifinance, BUMN, dan media massa lebih banyak berimprovisasi.

Pementasan yang diproduksi oleh #Paragraf Satu Production dan disutradari oleh seniman senior Aris Mukadi ini juga menghadirkan bintang tamu para pemain Srimulat, serta para pemain ketoprak dari Perhimpunan Seniman Wayang Orang dan Ketoprak “Adhi Budaya”.

Destry Damayanti (LPS), tampil sangat menjiwai perannya tetapi lebih sering mempromosikan lembaga yang dipimpinnya. Begitu pun Evi Afiatin, direktur BPJS Ketenagakerjaan yang berperan sebagai Ratu Kaliyamat mengatakan bahwa seluruh warga Kudus makin sejahtera karena telah dijamin oleh BPJS KEtenagakerjaan. Penonton pun geeerrr…

Kusumaningtuti S. Soetiono (mantan DK OJK), Ahmad Fajar (J-trust Bank), Benny Purnomo (MNC Bank), Diding S. Anwar (Kadin), Nicolaus Prawiro (Capro), Lisawati (Bank Jasa Jakarta), Sussie Meilina (MNC Securitas) tampil dengan busana yang pas.

Yang cukup menakjublah adalah peran Ilya Avianti (PLN), yang mati terbunuh ketika mengandung bayi Arya Penangsang ketika masih berusia 7 bulan. Ia rela berguling-guling di panggung layaknya aktor profesional.

Juanita Luthan (Securinvest), Nini Sumohandoyo (Prudential), Anggar B. Nuraini (OJK), Rita Mirasari (Danamon), Vera Liem (BCA), Fajar Nugroho (BKraf), dan Danny Hartono (Bank Mas) serta Dumasi Samosir (Asuransi Sinar Mas) makin menambah semaraknya panggung lantaran tepuk tangan hadir dari audiens yang mengenal mereka sehari-hari.

Direktur BPJS KETENAGAKERJAAN Evi Afiatin Ismail sebagai Ratu Kaliyamat (kanan) dan Edhie Purnawan jadi Arya Penangsang.

DISAWER SOUVENIR

Ketika Kresno Sediarsi (Dirut Bank DKI), tampil tepuk tangan meriah karena banyak membawa supporter seraya melemparkan souvenir dari bank yang dipimpinnya, layaknya penonton di kampung memberikan saweran ke atas panggung. Belum lagi, penampilan Kresno dipadu oleh Eko B. Suprianto dan Lahyanto Nadie, wartawan senior nyang juga dosen Kwik Kian Gie School of Business. Sentilan kritis tentang kondisi ekonomi dan politik kekinian pun meluncur deras dari trio bankir-wartawan itu.

Dagelan mereka melengkapi kocaknya penampilan pemain Sri Mulat yaitu Tarsan, Tesi dan Polo.

Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta dan anggota DPR RI Indah Kurnia, Aviliani (ISEI), Nimmi Zulbainarni (ISEI), makin melengkapi panggung dengan aroma ekonomi politik.

KOCAK DAN KRITIS

Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Hery Trianto, Direktur Utama Koran Sindo Sururi Alfaruq, Pemimpin Redaksi Koran Tempo Budi Setyarso, Wapremred Infobank Karnoto Mohamad, Joice (Kompas) dan Tommy Aryanto (Tempo) dan Darto (InfoBank) tentu sajan lebih banyak berkomentar kritis tentang kondisi negara. “Kami dari Kediri, artinya kena dikit langsung berdiri,” kata Budi yang disambut derai tawa teman-temannya.

Sang produser mengatakan bahwa acara ini dipersembahkan sebagai bentuk kecintaan para sahabat di lingkungan masyarakat keuangan, perbankan, BUMN, serta kalangan media terhadap kesenian tradisi budaya Indonesia, yaitu ketoprak.

Di tengah kesibukan sebagai profesional, para pemain masih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian kesenian tradisional Indonesia.

Untuk itu, ia memberikan pengharagaan yang setinggi-tingginya kepada mereka yang berkenan meluangkan waktu serta memberikan dukungan atas terselenggaranya pagelaran ini. “Insya Allah pagelaran ini dapat menyalakan lilin bagi kebudayaan tradisi yang sudah lama redup.”

DUKUNG KESENIAN

Bagi Eko, kegigihan para seniman tradisional, seperti Aris Mukadi dan para seniman dari Yayasan Adhi Budaya, untuk melestarikan seni tradisi, seharusnya dihargai dan diberi kesempatan untuk terus berlanjut bisa mengadakan pentas di banyak tempat.

Sebagai bentuk kepedulian, hasil dari pementasan tersebut akan disumbangkan untuk pengembangan kesenian tradisi ketoprak Yayasan Adhi Budaya. Sponsor, donatur, dan semua pihak yang mendukung terselenggaranya acara ini mendapat apresiasi dari Eko. “Acara ini sangat istimewa karena berbarengan dengan kejadian alam gerhana bulan,” ujar Eko.

Kisah Arya Penangsang ini bisa memberikan pelajaran berharga bagi publik bahwa tahta atau kedudukan terkadang mampu membuat orang gelap mata, bahkan terhadap saudaranya sendiri. Pada tahun politik yang sedang sibuk Plikada ini kisah Arya Penangsang tidak sampai terulang lagi di negeri tercinta ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *