in

Kementan Tawarkan Ekspor Komoditas Hortikultura kepada Iran

Sekretaris Badan Litbang Pertanian Muhammad Prama Yufdi (kiri) bersama salah seorang pembicara dalam Simposium Hortikultura Internasional di Kuta, Bali, Selasa (27/11/2018).

Businesstoday.id, Kuta – Kementerian Pertanian RI menawarkan ekspor sejumlah komoditas hortikultura kepada Iran seperti mangga, manggis, pepaya dan pisang karena produk tersebut diminati masyarakat negara tersebut.

“Indonesia sudah punya varietas dan teknologinya. Iran sangat tertarik sehingga kami tawarkan,” kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Hortikultura Hardiyanto ketika hadir dalam Simposium Internasional Hortikultura di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Selasa (27/11/2018).

Perwakilan Litbang kedua negara mengadakan pertemuan bilateral yang salah satunya membahas potensi kerja sama perdagangan komoditas hortikultura yang dilaksanakan di sela-sela simposium internasional itu.

Pertemuan tersebut, ucap dia, merupakan tindak lanjut kerja sama yang sebelumnya telah dilakukan pada level Kementerian Pertanian masing-masing negara.

Indonesia, kata dia, juga ingin mengembangkan varietas komoditas tertentu seperti kurma yang bisa didukung oleh Iran dengan teknologi dan keahlian yang mereka miliki.

Selain itu, tenaga ahli dari Indonesia juga akan dikirim ke negeri itu untuk memberikan pelatihan kepada sumner daya manusia di Iran terkait pengembangan hortikultura.

Sebaliknya, Iran juga tertarik memasok beberapa komoditas di antaranya kiwi dan delima ke Indonesia.

Ia mengharapkan forum internasional tersebut juga menjadi ajang memperluas jaringan tidak hanya untuk perdagangan luar negeri tetapi juga berbagi informasi terkini terkait penelitian dan inovasi hortikultura.

Senada dengan Hardiyanto, Sekretaris Badan Litbang Pertanian Muhammad Prama Yufdi menambahkan Indonesia merupakan salah satu “mega diversity” dunia atau negara yang memiliki beragam komoditas hortikultura.

“Mega diversity” tersebut, kata dia, menjadi incaran negara lain mulai dari buah-buahan, sayuran hingga tanaman hias dan melahirkan banyak inovasi serta penelitian yang tidak hanya bermanfaat bagi ilmu pengetahuan tetapi juga petani.

“Kami tidak memberikan cuma-cuma tetapi dalam bentuk kerja sama penelitian yang kami lakukan sehingga tidak hanya mendapatkan inovasi baru terkait komoditas kita tetapi juga meningkatkan kapasitas SDM,” ucapnya.

Simposium internasional itu dilaksanakan sebagai wadah bagi peneliti meningkatkan pengetahuan dan saling bertukar ilmu dalam menghadapi tantangan dan persaingan dalam pengembangan komoditas hortikultura.

Forum di Bali ini dihadiri sekitar 250 peserta dari 10 negara meliputi India, Filipina, Vietnam, Thailand, Jepang, Belgia, Selandia Baru, Australia, Jerman dan Indonesia. (dew)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *