in

JK, Islam, dan Sejarah

Eko Prasetyo, aktivis Social Movement Institute

Businesstoday, DEPOK – Pak Jusuf Kalla (JK) itu sosok luar biasa. Lincah dalam berdagang. Terampil dalam berpolitik. Kini ikut merintis kampus Universitas Islam International Indonesia (UIII).

Ia berdiri paling muka dan bersemangat membela semua yang merintangi niat diberdirikannya sebuah kampus yang mengklaim Islam International. Sebuah perguruan tinggi yang pasti punya ambisi raksasa. Islam dan International merupakan dua suku kata yang penuh ironi: Islam sebagai ajaran yang dianut oleh banyak warga dunia.

Berdasar atas Qur’an yang punya pesan abadi. Qur’an mengandung ajaran, kisah sekaligus ancaman. Kampus ini pasti meletakkan Qur’an sebagai sumber utama pembelajaran. Baiknya memang sebelum berdiri kampus ini memahami kandungan Qur’an. Khususnya cara Qur’an memahami sejarah. Sehingga JK sebagai salah satu pendirinya tak beri peryataan kontroversi.

ISTRI KEDUA

Katanya kampus ini akan berdiri dengan merobohkan Rumah Cimanggis yang dibangun tahun 1775. Rumah yang kata pak JK milik istri kedua pejabat VOC. Mungkin karena istri kedua rumah itu layak dirobohkan. Cilakanya meskipun data riset staf pak JK salah tentang istri kedua yang ditempatkan dalam konteks poligami-padahal kenyataannya van der Parra menikahinya setelah dua tahun ditinggal istrinya yang pertama-tetapi itulah senjatanya yang pas buat menyatakan masa rumah bini kedua (baca: poligami) jadi situs.

Maka komentar pak JK sinis sekali: “Rumah itu rumah istri kedua dari penjajah yang korup. Masa situs itu harus ditonjolkan terus. Jadi, rumah istri kedua gurbenur yang korup, masa mau menjadi situs masa lalu. Yang mau kita bikin di situ situs masa depan.”

Pak JK meyentuh bukan moral pejabat VOC saja tapi juga keinginan untuk mengenyahkan masa lampau Kenangan busuk yang tak pantas diingat. Bagi pak JK kampus UIII adalah masa depan. Pantas jika didirikan pada bangunan kuno yang punya cerita brengsek. Seolah kampus Islam itu harus berdiri untuk menghapus masa lalu yang kotor. Kampus Islam ini jauh lebih penting untuk berdiri ketimbang mempertahankan rumah istri kedua dari pejabat VOC.

Kampus Islam itu wajah masa depan. Sehingga layak untuk mengubur bangunan masa lalu. Lebih-lebih itu bangunan yang dulu dihuni oleh pejabat kolonial. Korup dan tak bermoral. Pertimbangan moral yang kian sering dilakukan.

Mengukur masa lalu dengan apa yang jadi ambisi hari ini. Tak ditimbang nilai historis bangunan, apalagi nilai artistik bangunan. Seolah pendidikan Islam tak berurusan dengan itu. Lebih kacau lagi seakan Islam itu tak menghiraukan sejarah.

Sepertinya ajaran Islam tugasnya bersihkan masa lalu untuk bangunan masa depan. Kita lupa ada banyak bangunan masa lalu Islam yang hingga kini jadi situs dunia. Tersimpan disana cerita, kisah sekaligus potret kemajuan. Islam punya kandungan ajaran yang sarat dengan kisah masa lalu.

Waktunya mungkin untuk melihat Islam tak sesederhana itu. Islam yang acuh pada masa lalu dan tak ingin belajar dengan masa lalu. Qur’an hampir dalam banyak kandungan bertutur tentang masa lalu. Terutama kisah tentang para pembangkang yang jauh lebih brengsek. Kalau diurut ada banyak individu bermasalah dituturkan oleh Qur’an, baik nama maupun posisinya: Fir’aun, Abu Lahab, Hamman hingga saudaranya Yusuf. Mereka perbuatanya bermacam-macam: mengaku Tuhan, mau bunuh nabi hingga memasukkan nabi dalam sumur.

Kisah itu bisa berulang-ulang dalam banyak surah. Qur’an bukan kitab sejarah yang merinci tanggal dan persisnya kejadian: namun Qur’an kerapkali menceritakan masa lalu dengan gaya bahasa yang segar dan indah. Qur’an tak sekedar cerita tapi juga mengajak ummatnya memahami makna peristiwa masa lalu. Ringkasnya dalam kandungan ajaran Islam masa lalu itu jadi sumber utama pelajaran. Firman Allah terang benderang dalam soal ini:

Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami (QS Yunus: 92.)

Ini tentang Fir’aun yang dibiarkan mayatnya bertahan. Menilik kisahnya kita bisa terkejut: pria ini berkuasa dengan keinginan membunuh bayi yang mengguncang mimpinya. Seenaknya pria ini menyuruh pasukanya untuk membunuhi bayi yang baru lahir. Meyakini dirinya Tuhan. Hobby menindas. Dan suka sekali menghukum. Keangkuhanya keterlaluan: hidup mati penduduknya ikut kebijakanya.

Kalau ditimbang secara akal pria ini pantas musnah. Layak jika pria ini tak usah disebut berulang-ulang. Tapi Allah berkehendak lain: Fir’aun dapat jadi pelajaran. Jasadnya dibiarkan utuh. Sebagai ingatan tentang penguasa diktator yang keji. Bahkan pelajaran untuk orang yang ingkar. Qur’an merekam banyak kisah-kisah masa lampau dengan tujuan peneguhan, peringatan dan utamanya Iman:

Dan semua kisah dari rasul-rasul yang Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu: dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman (QS Hud (11): 120)

Setidaknya orang bisa dikatakan beriman jika belajar dari masa lalu. Khususnya memahami tokoh hingga kehidupan di masa itu. Mengambil hikmah pada peristiwa masa lalu. Sederhananya menghargai sejarah. Ingat saja ibadah haji: rentetan ritualnya mengingat peristiwa masa lalu. Rukun haji merupakan adegan yang dilakukan oleh keluarga besar Ibrahim.

Semua orang Islam menjalankan apa yang dulu dikerjakan oleh keluarga Ibrahim. Maka sungguh ironis kalau ada orang Islam mencela sejarah. Lebih-lebih kalau lembaga pendidikan Islam ingin menghapus sejarah. Karena tiap masa lalu punya makna dan pelajaran di masa depan. Kian buram itu masa lalu maka itu jadi penting bagi langkah di masa depan. Biar kita tak mengulang dengan keji. Persis seperti dikatakan Jorge Santayana, ‘mereka yang tidak dapat mengingat masa lalu terkutuk untuk mengulanginya’

PEJABAT KORUP

Yang nikah punya dua istri dan korup itu tak hanya pejabat VOC. Kini banyak pejabat bersikap serupa. Lebih brutal, sadis dan keji dalam mencuri. Di atas puing bangunan sejarah yang kita abaikan itu banyak adegan masa lalu berulang. Di atas upaya untuk melupakan masa lalu itu kita semua terjerembab untuk mengulangnya lagi.

Pada kandungan ajaran Islam sejarah punya makna dan hikmah. Makna itu adalah untuk memastikan kalau peristiwa masa lalu itu pelajaran bagi masa depan. Hikmahnya agar tiap orang beriman selalu mampu menarik kandungan kebenaran di balik peristiwa masa lalu. Singkatnya sejarah punya makna istimewa dalam ajaran Islam. Qur’an bahkan sering dianggap sebagai kitab yang menyimpan unsur sejarah.

Maka belajar sejarah merupakan kewajiban orang beriman. Diminta orang beriman untuk memperhatikan kehidupan suku, bangsa maupun peradaban yang pernah berjaya. Banyak kitab sejarah ditulis oleh para ulama yang mengisahkan tentang peristiwa, tokoh hingga sistem kehidupan masyarakat pada masa lampau. Bahkan secara cemerlang juga bentuk bangunan, struktur sosial hingga konsumsi pada masa itu. Tercatat banyak nama sejarawan Islam: Ibn Khaldun, Al-Mas’udi, Miskawaih, Ibn Khaliqan, Al Biruni, Al Maqrisi, Yakut dan Ibn Asakir. Sementara itu adalah banyak penulis sejarah pada masa permulaan Islam, seperti Ibn Ishaq, Ibn Hasyim, Ibn Atsir, Abu Fida, Al Dzahabi, Al Tabari, Al Kalbi, Al Waqidi, Ibn Sa’ad dan Ibn Muqaffa. Maka sejarah dalam Islam merupakan sumber pengetahuan yang kedudukanya amat terhormat.

MENGHARGAI SEJARAH

Sebaiknya kampus UIII yang akan berdiri lebih menghargai sejarah. Karena memang Qur’an mengajarkanya demikian. Petiklah dari masa lalu apa yang telah terjadi. Biarkan itu menjadi hikmah bagi generasi berikutnya. Supaya kita semua benar-benar menjadi orang beriman yang terdidik. Tiap pandangan ditimbang kemaslahatanya. Tiap pendirian ditinjau melalui pertimbangan wahyu. Sehingga kita tidak menjadi ummat yang merasa benar sendiri, apalagi menilai masa lalu dengan cara hina.

Jika sikap demikian yang membuat kita seperti apa yang disindir dalam firman Allah:
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabanya (QS Al Isra (17: 36)

Eko Prasetyo (aktivis Social Movement Institute)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *