in

JJ Rizal vs Jubir JK: Siapa Jago?

JJ Rizal dan Husein Abdullah

Businesstoday, DEPOK – JJ Rizal kembali melawan. Setelah berseteru dengan kebijakan Gubernur Basuki Tjahaya Purnama(Ahok) soal penggusuran pada tahun lalu, sekarang sejarawan jebolan Universitas Indonesia melawan Istana.

Kini perjuangannya melalui rumah Cimanggis yang akan digusur oleh pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) untuk pembangunan Universitas Islam Indonesia International (UIII). Perlawanan JJ Rizal dkk ditanggapi oleh Jurubicara Jusuf Kalla Hussein Abdullah. Berikut adalah perdebatan mereka:

Hussein Abdullah: Para sejarawan tak berpikir luas jika menolak rencana pemerintah menghancurkan rumah cimanggis demi pembangunan UIII

JJ Rizal: Gerakan kami adalah #SelamatkanRumahCimanggis dan karena itu konsentrasi kami lebih pada soal bagaimana agar situs sejarah itu selamat. Bukan pada upaya menolak keberadaan UIII.

Sebab bagi kami tidak perlu membenturkan apalagi mempertentangkan atau malah menghilangkan antara dua hal yang sebenarnya sama fungsinya, yaitu medium pendidikan. Seperti juga universitas, bagi kami “situs sejarah” juga medium pendidikan.
Apalagi yang akan didirikan adalah Universitas Islam Internasional yang disebut akan dijadikan pusat peradaban Islam. Bukankah Islam dan sejarah seperti gigi dengan gusi, dekat sekali. Peradaban Islam dengan dunia internasional pun lekat betul.

Qur’an hampir dalam banyak kandungan bertutur tentang masa lalu. Qur’an tak sekedar cerita tapi juga mengajak ummatnya memahami makna peristiwa masa lalu agar berpikiran bukan hanya luas tetapi juga sehat. Sebab dalam kandungan ajaran Islam masa lalu itu adalah sumber pelajaran.

Firman Allah terang benderang dalam soal ini: Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami (QS Yunus: 92).

Itu ayat tentang Fir’aun yang dibiarkan mayatnya bertahan utuh. Sebagai ingatan tentang penguasa lalim yang keji. Sekaligus pelajaran untuk orang yang ingkar.
Kini bahkan jasad Fir’aun itu bukan hanya menjadi situs sejarah dunia Islam, tetapi juga menjadi salah satu dari banyak situs sejarah masa lalu Islam yang diterima menjadi situs dunia internasional.

Islam memang penyumbang besar peradaban dunia internasional karena kekayaan peradaban Islam menyimpan banyak cerita, kisah, situs yang dapat menjadi ruang bermenung untuk mengerti apa arti kemajuan yang beradab.

Terlebih bangsa kita mengadopsi kata sejarah bukan dari bahasa peradaban Eropa. Tetapi, dari bahasa dunia Islam yaitu šyajaratun artinya pohon. Dosen saya saat kuliah dulu di Jurusan Sejarah FSUI, Pak Sutopo Soetanto, dalam kuliah Pengantar Ilmu Sejarah bilang bahwa šyajaratun itu bermakna ganda. Sebab bukan saja mengacu kepada silsilah yang seperti pohon. Tetapi, juga mereka yang hidup tidak peduli dengan sejarah persis pohon tanpa akar.

Mereka jadi kurus kering. Membusuk persis jerangkong. Semoga saja kita semua diselamatkan dari bahaya menjadi “kaum jerangkong” dan termasuk kaum yang berpikir luas. Amin.

Hussein Abdullah:
Seharusnya sejarawan menggunakan logika dalam mengkaji aspek kesejarahan sebuah objek. Jika Adriana bukan istri kedua Van der Parra, seharusnya ia tinggal di Istana Bogor. Tapi faktanya tidak, justru Adriana harus menepi ke Rumah Cimanggis di Depok yang pada masa itu, sebagian masih hutan belantara?

JJ Rizal:
Salah satu perangkap maut logika sejarah adalah anakronisme. Istilah ini menurut KBBI artinya 1) hal ketidakcocokan dengan zaman tertentu; 2) penempatan tokoh, peristiwa, percakapan, dan unsur latar yang tidak sesuai menurut waktu.

Misalnya dicontohkan “Hang Tuah melihat arloji titusnya, lalu menghidupkan pesawat televisinya”. Terdapat dua anakronisme di sini. Mana mungkin sudah ada arloji titus dan televisi di zaman Hang Tuah.

Anakronisme inilah yang hidup dalam pandangan pak Jubir Wakil Presiden JK. Sebab menggunakan logika zaman kini kepada masa lalu.

Agar semakin jelas baik saya kutip dari A. Heuken dalam buku klasiknya Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta. Ia menulis: “Kehidupan di Batavia pada abad ke-18 menjadi semakin tidak sehat. Kota menjadi sibuk, ramai dan berbau busuk. Dalam daerah yang dikelilingi tembok itu tak banyak tanah yang tersisa untuk membangun rumah besar, apalagi dengan taman yang luas. Padahal pejabat Kompeni menyukai kebun, bunga dan pohon. Oleh karena itu, kaum arsitokrasi duit dan politik membangun rumah-rumah peristirahatan di luar kota, segera sesudah kota aman dari ancaman binatang buas dan gerombolan budak belian yang melarikan diri dan dari sisa tentara Mataram dan khususnya patroli Banten.”

Ini menjelaskan pada abad ke-18, terutama pasca tahun 1730-an, banyak pejabat kaya yang menepi ke luar kota benteng Batavia (ommelanden) dengan sengaja. Niatnya untuk mencari lingkungan yang lebih sehat. Jadi bukan dibuang atau dikucilkan.

Mereka mencari selamat dari epidemi penyakit di kota dengan membangun rumah di kawasan yang lebih segar yang sudah dibuka sejak tahun 1650-an, tetapi masih rimbun pepohonannya. Meskipun bukan lagi hutan belantara.

Mereka kapok bikin rumah plek ketiplek bergaya arsitektur Eropa, tetapi memasukkan arsitektur tropis agar rumah peristirahatnnya lebih segar. Alhasil rumah menjadi banyak kebun-kebun besar, bahkan sawah-sawah dicetak, pohon buah-buahan ditanam dan peternakan diadakan.

Adriana dan van der Parra pun tidak tiap hari di Rumah Cimanggis sebab itu rumah peristirahatan atau landgoed. Tetapi, biasanya seminggu dua kali mereka datang. Plesiran sambil periksa kebun dan pasarnya di Cimanggis. Sisanya tinggal di istananya-bukan istana Bogor (ini landgoed van Imhoff tentu tidak elok diserobot keluarga van der Parra)-melainkan istana mereka sendiri yang jauh lebih mewah di Weltevreden sekitar Senen kini.

Penulis kronik Batavia, P. de Roo de la Faille, menjelaskan Adriana hidup sebagai “Nyonya Gubernur Jenderal” yang membanggakan dan terhormat sebab ia putri dari Gubernur Belanda untuk Ambon. Saking bangganya van der Parra menyebut anak mereka sebagai satu-satunya pewaris sang gubernur jenderal. Van der Parra pun membuatkan mendali bagi anaknya itu saat perayaan ulang tahun perkawinan mereka pada 1768.
Jika sekiranya ini masih kurang logis bahwa Adriana bukan isteri simpanan, saya sarankan bapak kepala Staf Khusus Wakil Presiden JK, membaca sendiri kisahnya di dalam buku The Social World of Batavia: European and Eurasian in Dutch Asia karya Jean Gelman Taylor.

Hussein Abdullah:

Sejarawan menyinggung bahwa benteng Fort Roterdam itu tidak dibangun Belanda, melainkan oleh Raja Gowa sebagai pengawal Benteng Somba Opu, yang kemudian direbut oleh Belanda setelah Speelman menaklukkan Gowa.

JJ Rizal:
Maaf, kalau yang ini hanya pak Jubir Wakil Presiden JK kurang teliti membaca twit saya. Sebab twit saya tidak menyebut Fort Roterdam dibangun oleh Belanda. Tetapi, SIMBOL KOLONISASI KOMPENI sebab berbagai penguasa Belanda bermarkas di Fort Roterdam itu. Nama Fort Roterdam pun baru muncul setelah Speelman berkuasa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *