in

Harry Tanugraha, Kids Zaman Now

Harry Tanugraha

Businesstoday, JAKARTA – Julukan milenial dicetuskan pertama kali di Amerika Serikat pada 1987, saat anak-anak yang lahir pada 1982 masuk prasekolah, dan lulus SMA pada 2000. Bagaimana soal kids zaman now?

Istilah ini ditulis William Strauss dan Nell Howe dalam buku mereka, Generations: The History of America’s Future Generations (1991) dan Millenials Rising The Next Great Generation (2000).
Berdasarkan tahun kelahiran, para pakar sosio-demografi mengelompokkan sebagai berikut:

a. Sebelum 1925 : Greatest Generation.

b. 1926 – 1945 : Silent Generation.

c. 1946 – 1964 : Baby Boomers Generation.

d. 1965 – 1980 : Generation X.

e. 1981 – 1999 : Generation Y.

f. 2000 – 2012 : Generation Z

Generasi Y ini menarik perhatian, karena jumlah kelompok ini cukup besar (35 % dari penduduk) dan berada pada peralihan zaman revolusi manufaktur ke zaman teknik informasi, sebagai kelanjutan perubahan zaman pertanian ke zaman revolusi manufaktur.

KARAKTER KHUSUS

Pada 2025, 77% angkatan kerja Indonesia akan diisi generasi Y dan generasi Z.
Meskipun tergantung dari wilayah dan kondisi sosial ekonomi, kaum milenial memiliki  karakter khusus yang sangat gandrung pada teknologi digital, pemanfaatan media sosial, dan sangat akrab berkomunikasi.

Dengan memanfaatkan teknologi informasi, mereka menyukai musik, film dan meningkatkan bakat/ketrampilan dan wawasan mereka. Tingkat kepercayaan diri mereka tinggi, mereka tahan tekanan, dan sangat tekun mengejar sasaran yang ditargetkan.

Namun mereka berpikiran lebih liberal dalam politik dan ekonomi, dan beranggapan bahwa berkelompok dengan teman-teman sealiran jauh lebih penting daripada ikut bergabung dengan lembaga-lembaga resmi. Meskipun sifat mereka agak pemalas, mereka tidak segan berpindah tempat kerja dan mengejar kekayaan yang penting bagi kehidupan mereka.
Mengingat kenaikan harga tanah/rumah yang meroket, mereka khawatir tidak akan dapat memiliki rumah.

BERPIKIRAN PRAKTIS

Sedangkan generasi X, sering dihantui masalah kecukupan dana sesudah pensiun.
Dalam hal kebutuhan kendaraan, kaum milenial berpikiran praktis. Jika perlu, mereka lebih suka memanfaatkan mobil sewa berbasis online seperti Uber, Grab dan Gojek. Mereka juga berpikiran terbuka dan ramah terhadap saran dan kritik.

Dari hasil penelitian APJII dan Puskakom Universitas Indonesia pada  2014, pengguna internet di Indonesia didominasi oleh Generasi Y dan Z lebih dari 75%. Semua kegiatan informasi dan kehidupan sehari-hari dilakukan dengan memanfaatkan ponsel pintar (smartphone), pad dan laptop. Karena sangat akrab dengan teknologi informasi ini, kaum milenial terlihat cenderung menyendiri dan beralih dari makhluk sosial ke makhluk individu.

Berbagai pola kehidupan berubah mengikuti arah dan gerak kaum milenial. Pola belanja mereka cendrung memanfaatkan online shop dan melihat barang dan harga melalui web toko-toko e-commerce tersebut.

Toko-toko makanan cepat saji dan berbagai makanan/jajanan nusantara menutup gerai-gerai mereka untuk beralih ke online shop. Pesanan dilakukan via medsos dan barang yang dibeli di antar ke rumah. Kaum milenial dengan mudah mencari berita dan informasi dengan menggerakkan jari-jari mereka di ponsel pintar dan membandingkan harga yang satu dengan yang lain.

BERKARAKTER BEBAS

Generasi sebelum Y masih banyak yang memilih koran cetak atau pergi ke toko untuk membeli barang. Mereka tetap ingin memeriksa barang yang berkualitas kuat. Namun kaum milenial lebih cendrung memilih barang keren dan bermerek dengan membanding-bandingkan harga agar mendapatkan keinginan mereka dengan biaya yang terjangkau. Karena berkarakter bebas, kaum milenial lebih memilih pekerjaan yang terkait dengan teknologi informasi (IT) dan menjadi bos sendiri, seperti: penulis konten, seniman digital, selegram, blogger, youtuber, travel writer, programmer, pedagang online dan pemilik start up.

Mereka sangat terobsesi pada perusahaan-perusahaan  IT yang besar, seperti Facebook, Google, Amazon, Lazada, Alibaba, dan lain-lain. Namun sebagai pemain-pemain baru, mereka juga sangat khawatir diakusisi oleh perusahaan-peruahaan raksasa yang mengglobal tersebut. Karena itu mereka sangat mengharapkan perlindungan dari Pemerintah qq BEKRAF. Tidak heran, banyak pihak yang tertarik memperhatikan generasi muda yang potensial ini.

Dari aspek spiritual, penetrasi budaya barat, pergaulan bebas, hedonisme (paham yang dianut kelompok yang mencari kesenangan saja) dan berbagai bentuk pesta menjadi tantangan tersendiri bagi kaum beragama.

Ajaran agama tentang kasih sayang, kebaikan dan bukan kebencian, hidup bertoleransi, dengan mudahnya tergerus oleh berita dan informasi di medsos yang menjadi santapan setiap menit kaum milenial. Banyak ajaran yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, seperti fundamentalisme, radikalisme, rasialisme, primordialisme, dengan mudah diakses kaum milenial melalui ponsel pintar.

Di banyak negara, gereja tradisional ditinggalkan, ditutup atau dijual.  Kaum milenial justru  ditampung atau bergabung dengan rumah-rumah ibadah yang menyesuaikan diri dengan sifat dan karakter generasi ini, meskipun agak terlepas dari nilai-nilai luhur dan prinsip dasar suatu agama. Peran Tuhan dan nilai budaya agama tidak dirasakan; yang ditonjolkan hanya kepuasan duniawi.

Puji syukur rumah-rumah ibadah, GKI PI memperhatikan segi-segi positif kaum milenial ini, sehingga muncul produk-produk video, aplikasi dan web instagram GKI PI. Tidak ketinggalan, Youtube dimanfaatkan pula oleh pararohsniwan pendeta untuk mnyebarluaskan pesan dan renungan rohani.

Faith without science is blind and science without faith is cripple. Kepada manusia, Allah telah memberikan mandat budaya dan mandat natural untuk menguasai alam ciptaan Tuhan dan menaklukkannya.

*) Harry Tanugraha adalah pengusaha yang kini menjadi investor bursa saham dan bursa berjangka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *