in

Harry Tanugraha, di Antara Dua Bursa

Harry Tanugraha dan istri tercinta

Businesstoday, JAKARTA – Harry Tanugraha hidup di antara dua bursa, Bursa Efek dan Bursa Berjangka. Bagi para pelaku bursa yang mengenal Harry sejak awal 1990-an tentu tak asing bagi mereka tentang wong kito jebolan Teknik ITB 1959 ini. Ia juga dikenal sebagai jagonya bursa berjangka sebelum pasar modal booming 1989.

Kini pria yang masih bugar di usia 78 tahun ini, masih aktif sebagai investor di kedua bursa itu. “Saya buktikan sendiri, jika dilakukan secara benar dan tekun, lansia [lanjut usia] dapat mengandalkan biaya hidupnya hanya dengan menjadi individual investor di kedua jenis bursa ini,” katanya.

Bisnis yang dilakukan sejak usia belia hingga kini, membuktikan bahwa pria yang selalu tampil elegan ini mencerminkan seorang entrepreneur sejati. Ia disiplin, kerja keras dan tentu saja kerja dengan cerdas.

Bagi Harry, pemikiran bursa berjangka di Indonesia melangkah tinggi tanpa terlebih dahulu memperkuat pijakannya. Pasar yang disentuh langsung ke pasar berjangka atau future, seharusnya diperkuat dahulu pasar fisik atau spot market. “Nantinya secara bertahap ditingkatkan ke pasar penyerahan kemudian [forward market].”

Semua komoditas, kata pria yang suka naik sepeda jika ke pasar tradisional, ini mempunyai tiga tingkatan pasar yaitu spot, forward dan futures yang saling terkait.

Sesungguhnya prospek perdagangan berjangka di Indonesia masih sangat besar. Namun, saat ini yang dikenal masyarakat lebih banyak mengenai investasi saham dan obligasi. Sehingga perkembangan selama 20 tahun Bursa Berjangka Indonesia (BBJ) atau Jakarta Futures Exchange (JFX) sebagai salah satu bursa berjangka belum signifikan.”Jadi PR buat kita semua.”

Di tengah kesibukannya sebagai investor, Harry aktif di media sosial. Statusnya up date terus.

Suatu kali ia menulis, “sebagai makhluk sosial, manusia hidup bersama dalam komunitas, tanpa menghilangkan sifat-sifatnya sebagai manusia individu.”

Kebebasan yang dimiliki manusia adalah keleluasaan yang bertanggung jawab dan sekaligus membangun persaudaraan dengan kasih. Make every one effort to keep unity of the spirit through the bonding peace.

Komunitas dibangun bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk bersyukur atas karunia, rahmat dan berkat yang telah diberikan Allah yang Maha Besar dan Maha Pengasih.

Finally, all of us be like minded, be sympathetic, love one another, be compassionate and humble. Sejuk rasanya menikmati celotehan Harry yang suka pempek itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *