in

Ekspor-Impor Antardaerah NTT Meningkat 1,39 Persen

Bank Indonesia mencatat, net ekspor impor antardaerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2018 tumbuh meningkat 1,39 persen.

Businesstoday.id, Kupang – Bank Indonesia mencatat, net ekspor impor antardaerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2018 tumbuh meningkat 1,39 persen (yoy), dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0,82 persen (yoy).

Kondisi tersebut sejalan dengan pertumbuhan peti kemas yang datang di pelabuhan Provinsi NTT, meskipun masih lebih rendah dibandingkan tahun lalu, namun menunjukkan peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Demikian hasil kajian ekonomi dan keuangan regional Nusa Tenggara Timur (NTT) oleh Bank Indonesia yang diterima Antara di Kupang, Senin (6/5/2019).

Menurut Bank Indonesia, impor antardaerah meningkat, salah satunya seiring meningkatnya permintaan barang tahan lama seperti kendaraan bermotor menjelang akhir tahun, sebagaimana disampaikan oleh survei Contact Liaison dunia usaha Bank Indonesia.

Kontak lain yang bergerak dalam penjualan consumer goods juga menyampaikan adanya peningkatan persediaan untuk 2-4 bulan ke depan dalam rangka persiapan tahun baru, diantaranya komoditas minuman, beras, gula pasir, tepung terigu dan lain-lain.

Di sisi lain, pengiriman sapi ternak ke provinsi lain yang berkurang pada akhir tahun, menjadi faktor penyebab ekspor antardaerah melambat pada triwulan IV 2018.

Secara keseluruhan, ekspor antardaerah pada tahun 2018 tercatat tumbuh meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, sementara impor antardaerah tumbuh melambat sehingga turut menjadi pendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT.

Ekspor antardaerah tercatat tumbuh sebesar 29,01 persen (yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang terkontraksi sebesar -6,99 persen (yoy).

Peningkatan ekspor antardaerah disumbang oleh pengiriman sapi ternak ke provinsi lain yang meningkat.

Di sisi lain, impor antardaerah tercatat tumbuh melambat sebesar 5,11 persen (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 8, 72 persen (yoy).

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya pasokan beberapa makanan yang melambat dibandingkan tahun sebelumnya, seiring produksi di daerah lain yang terhambat seperti beras, daging ayam ras dan telur ayam ras.

Selain barang dan jasa kebutuhan proyek yang tidak sebanyak tahun sebelumnya dikarenakan pada tahun 2018, kebanyakan proyek besar merupakan kelanjutan tahun sebelumnya dan telah memasuki penyelesaian.

Serta kecenderungan masyarakat menahan konsumsi barang-barang lain seperti sandang dan keperluan rumah tangga, demikian Bank Indonesia. (ber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *