in

Masih Ada Opsi Lain, Revisi UU Keuangan Negara Harus Jadi Jalan Terakhir

Ekonom Indef, M Rizal Taufikurahman. (Foto: Instagram @mrizalt.official)

Businesstoday.id, Jakarta – Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menilai, revisi batasan defisit anggaran dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara belum perlu dilakukan. Sebab, pemerintah masih punya beberapa opsi untuk menghadapi situasi penuh tekanan ekonomi akibat wabah corona  (Covid-19) saat ini.

Rizal menjelaskan, revisi UU Keuangan Negara dilakukan apabila kondisi sudah darurat. Salah satunya, mengganggu keamanan dan stabilisasi ekonomi nasional. “Namun demikian, tentunya revisi dilakukan adalah jalan terakhir dilakukan,” tuturnya ketika dihubungi, Jumat (27/3/2020).

Alih-alih melakukan revisi UU, Rizal mengatakan, pemerintah sebaiknya fokus melakukan realokasi anggaran APBN 2020 dalam rangka mengantisipasi dampak Covid-19, baik di level nasional maupun regional.

Selain itu, jika dilakukan relaksasi pelebaran defisit menjadi lima persen, Rizal khawatir keleluasaan utang menjadi semakin tinggi. Bahkan, rasionya juga akan semakin bertambah. Rasio utang terhadap PDB saat ini saja sudah sangat mengganggu kinerja ekonomi maupun pergerakannya.

“Jangan sampai, relaksasi pelebaran defisit ini justru menjadi buah simalakama untuk perbaikan kinerja ekonomi nasional,” ujar Rizal.

Kalaupun ingin relaksasi, tidak diperlukan pelebaran defisit melainkan hanya mengefisienkan alokasi anggaran di level pusat dan daerah. Rizal mengatakan, resiko yang dihadapi akan jauh lebih kecil madharatnya dibandingkan resiko dengan memperlebar defisit anggaran terhadap stabilitas alokasi anggarannya.

Pelebaran defisit juga sebaikanya tidak menjadi pertimbangan dalam jangka panjang. Justru sebaiknya, Rizal mengatakan, relaksasi dilakukan apabila negara sudah pada emergency border limit. “Di mana ekonomi kita akan stagnasi berkepanjangan,” ucapnya.

Saat ini, Rizal menekankan, pemerintah fokus merealokasi anggaran untuk ‘menyembuhkan’ penyakit ekonominya sampai pulih. Setelah itu, baru mendorong perbaikan produktivitas ekonomi jangka panjang. (rep)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *