in

Eddie Nalapraya, Sang Jenderal Silat

Eddie Marzuki Nalapraya, Cecep Arief Rachman, Adrianus L.G. Waworuntu

BUSINESSTODAY, Depok – Eddie Marzuki Nalapraya mengerahkan tenaga dalamnya. Delapan jawara terpelanting. Mereka terhempas ke lantai Pelataran FIB UI yang basah lantaran hujan. Itulah atraksi Sang Jenderal Pencak Silat.

Para jawara dari perguruan silat Sim Lam Ba bukanlah jagoan sembarangan. Mereka adalah jago-jago silat yang mengerahkan tenaga dalam, bukan sihir. Namun keperkasaan Eddie, 87 tahun, membuat mereka berhamburan.

Itulah atraksi yang dilakukan Eddie seusai menerima Anugerah Budaya 2018 di kampus UI, Depok.

Sejarah Ilmu Sin Lam Ba berasal dari H. Oddo bin Syekh Abdul Karim, Banten. Syekh Abdul Karim Banten, tokoh tarekat Qadiriyyah yang terkenal di Asia Tenggara di akhir abad 19.

Tak hanya menampilkan jawara dari Sim Lam Ba, para pesilat dari Singapura, Malaysia, Jepang, Suriname, Italia, Prancis, Belanda, dan Australia, juga unjuk kebolehan. “Mereka gue telepon aje pada dateng,” katanya dengan logat Betawi yang kental.

Banyak jawara yang tampil di kampus itu. Salah satunya adalah pemeran berdarah dingin film The Raid: Cecep Arif Rahman. Ia adalah seorang pesilat profesional yang berasal dari perguruan silat Panglipur Garut. Karirnya di dunia silat sudah tidak diragukan lagi. Ia sering memperkenalkan dunia persilatan Tanah Air ke manca negara.

Ia tampil bersama jawara dari penjuru dunia, dan anak-anak muda yang gesit. Pisau lipat dan golok berseliweran merupakan atraksi yang mengerikan. Eddie lalu mendapatkan hadiah golok dari pesilat aktor laga Cecep Arif Rahman. Bukan main girangnya hati Eddie, dapat anugerah dari UI juga dapat golok.

APRESIASI BUAT PRAKTISI

Mengapa UI memberikan anugerah budaya? Pemberian anugerah budaya merupakan apresiasi kepada praktisi budaya atau seniman yang dinilai telah memberikan sumbangan istimewa terhadap pelestarian dan pengembangan kebudayaan di Indonesia. Salah satu yang penerima Anugerah Budaya 2018 dari FIB UI adalah Eddie Marzuki Nalapraya untuk kategori Pembina Seni.

Penerima anugerah lainnya, Iman Rahman Anggawiria Kusumah “Kimung” (Guru, Pembuat Film, dan Musisi, Bandung) Kategori: Seniman Tradisi; dan Umbu Wulang Landu Paranggi (Sastrawan, Bali) Kategori: Seniman Modern.

Kiprah Eddie selama puluhan tahun di dunia seni pencak silat tak diragukan. Ia mulai tertarik pada pencak silat, ketika ada aksi militer Belanda pertama, Juli 1947 yang menyerang daerah republik. “Saya bergeriliya bersama keluarga besar pencak silat yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” kata Eddie yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Badan Musyawarah Masyarakat (BAMUS) Betawi, 1996-1998.

Sejak bergaul dengan kalangan silat, cintanya pada dunia bela diri Indonesia ini makin besar. Pada 1978, ia dipercaya menjadi Ketua Pengurus Daerah Ikatan Pencak Seluruh Indonesia (IPSI) DKI Jakarta.

Ketika itu, kenang Eddie, orang malu jika berseragam silat, kalau datang ke tempat latihan berpakaian biasa, baru ganti baju latihan silat ketika latihan. “Kate orang, silat itu olah raga kampungan,” ungkap Eddie.

Sejak menjabat Ketua IPSI Jakarta, Eddie membuka jalur telepon selama 24 jam, agar pengurus dapat mudah berkomunikasi dengannya. Setahun kemudian ia menggelar acara Silaturahmi Pencak Silat Jakarta yang dihadiri 23.000 orang. Sejak saat itu pencak silat mulai berkembang pesat dan orang tak malu lagi memakai pakaian silat ke mana-mana.

KIPRAH GLOBAL

Kecintaannya pada dunia pencak silat makin dalam, promosi gencar dilakukannya mulai dari dalam negeri sampai mancanegara. Pada 1980, ia menjadi pemrakarsa terbentuknya Persekutuan Pencak Silat Antar Bangsa (Persilat). Ini adalah wadah aktualisasi diri pesilat internasional, seperti Persekutuan Silat Singgapore (PERSISI), Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia (PESAKA) dan utusan dari Brunei Darusalam. Tahun itu juga, ia pun terpilih sebagai Presiden Persilat. Berikutnya, pada 1981-2003, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 1984-1987 ini, didaulat menjadi Ketua Umum PB IPSI.

Berkat ketelatenannya, ia sukses membuat Kejuaran Pencak Silat Dunia dengan menggandeng pesilat dari Malaysia dan Singapura pada 1982 dan 1984 di Jakarta. Berikutnya kejuaran dunia pencak silat digelar pada 1986 di Winna Austria, 1987 di Malaysia, 1988 di Singapura, 1990 di Den Haag Belanda, dan 1992 di Indonesia.

Berkat usahanya, pada Sea Games 1987 pencak silat mulai dipertandingkan. Bahkan sejak 2003 pencak silat sudah diakui oleh Olympic Committee of Asian (OCA) Komite Olimpiade Asia. Setelah diakui oleh badan internasional ini, pencak silat telah resmi diperlombakan pada Asia Beach Games 2008 di Bali. Lalu, dilombakan dalam ajang Asia Martial Art Games 2009 di Thailand, juga Asian Indoor Games di Hanoi, November 2009.

MAKIN MONCER

Prestasi Eddie makin moncer. Beragam penghargaan diraihnya, pada 1997 Eddie diangkat sebagai pendekar besar kehormatan peguruan silat Tapak Suci dan pada 2005, ia menerima anugerah selendang kehormatan tertinggi dari Pertumbuhan Seni Silat Lincah Malaysia. Lalu, pada 2008, ia ditetapkan sebagai Bapak Pencak silat Eropa di Swiss, berbarengan dengan ajang kejuaraan pencak silat Eropa.

Atas jasa besarnya memajukan dunia pencak silat Indonesia di kancah nasional dan internesional, pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ia diberi gelar Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Pratama dari Pemerintah Republik Indonesia. Berikutnya, pada Mei 2011, Eddie mendapat gelar Doctor of Philosophy dalam bidang Martial Art dari Asia Pacific Open University, Malaysia. Sampai saat ini, Eddie didapuk sebagai Ketua Dewan Kehormatan BAMUS Betawi.

ANAK PRIOK

Eddie merupakan anak dari pasangan Mohammad Soetarman dan Marsati. Ia lahir di Tanjung Priok, Jakarta Utara, 6 Juni 1931. Ia mengawali karirnya di bidang militer sebagai pejuang kemerdekaan di Badan Keamanan Rakyat pada 1945.

Ketika terjadi perang revolusi kemerdekaan, pada 1947, Eddie dibawa mengungsi ke Tasikmalaya, Jawa Barat. Lalu, ia bergabung dengan Detasemen Garuda Putih yang dipimpin Kapten Burdah yang merupakan ayah dari penyanyi Rhoma Irama.

Sejak bergabung dengan dunia militer dengan pangkat Sersan karirnya terus menanjak sampai meraih pangkat Mayjen TNI pada 1983. Sesuatu yang langka diraih oleh seorang putera Betawi. Selain jago silat dan ngaji, Eddie juga pencinta dangdut sejati. Goyang bang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *