in

Cara Pemkab Muba Menyiasati Anjloknya Harga Karet

Harga Karet di Sumatera Selatan meredup seiring anjloknya harga komoditas ekspor itu sejak beberapa tahun terakhir.

Businesstoday.id, Palembang – Masa keemasan karet sah satu hasil kebun masyarakat di Sumatera Selatan meredup seiring anjloknya harga komoditas ekspor itu sejak beberapa tahun terakhir.

Anjloknya harga komoditas ekspor itu dalam kurun waktu yang cukup panjang lebih dari empat tahun membuat petani yang mengandalkan penghasilan keluarganya dari kebun karet mengalami kesulitan keuangan.

Dalam kondisi kesulitan keuangan, mendorong petani untuk melakukan berbagai kegiatan yang dapat memberikan penghasilan tambahan yang tentunya dengan jalan benar dan tidak melanggar hukum.

Untuk menyiasati kondisi sulit tersebut agar bisa tetap hidup layak bersama keluarga, petani di Kabupaten Musi Banyuasin yang merupakan salah satu daerah penghasil karet terbesar di Sumsel, membuat usaha sampingan memanfaatkan lahan perkarangan rumah.

Ratusan petani di Bumi Serasan Sekate itu memanfaatkan pekarangan rumah untuk usaha sampingan menyiasati anjloknya harga karet dan kelapa sawit dengan melakukan budidaya ikan air tawar.

Suwardi salah seorang petani di Desa Suka Maju, Kecamatan Babat Supat, Musi Banyuasin menjelaskan bahwa dia bersama rekan-rekannya seprofesi mencoba membangun usaha sampingan.

“Sekarang ini harga karet anjlok, jika tidak memiliki usaha sampingan tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan baik,” ujarnya.

Selama ini petani fokus pada kegiatan mengelola perkebunan karet yang memberikan hasil yang cukup besar dan penghidupan yang layak.

Dengan kondisi anjloknya harga karet yang selama ini menjadi andalan sebagai sumber penghidupan keluarga, dia bersama petani di daerahnya berusaha membuat usaha sampingan dengan memanfaatkan perkarangan yang ada di depan dan samping rumah.

Usaha yang cocok dan mampu dikembangkan adalah budidaya ikan air tawar, pilihan mengembangkan usaha sampingan itu sekarang ini membuahkan hasil yang menggembirakan dan benar-benar membantu mengatasi masalah keuangan keluarga.

Kegiatan budidaya ikan yang dikembangkan petani Desa Suka Maju dengan cara membuat tambak plastik/terpal bagi yang tidak memiliki lahan perkarangan yang luas dan bagi yang memiliki lahan luas membuat tambak dengan menggali tanah.

Ikan yang dibudidayakan petani sekarang ini masih terbatas atau disesuaikan dengan banyaknya permintaan masyarakat seperti ikan lele, nila, dan ikan patin.

Usaha sampingan petani tersebut setiap pekannya bisa menghasilkan ikan sekitar 3-5 ton sepekan dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di sejumlah desa dalam wilayah Kecamatan Babat Supat dan beberapa daereh lainnya.

Dengan adanya usaha sampingan itu, anjloknya harga karet tidak menjadi masalah lagi, karena biaya kehidupan dapat diatasi dengan hasil penjualan ikan.

Dari hasil penjualan ikan, petani di desa ini bisa mendapatkan uang sekitar Rp1 juta setiap pekannya, yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai pendidikan anak hingga perguruan tinggi, kata petani karet itu.

Jadikan Campuran Aspal
Selain mendorong petani kreatif menyiasati anjloknya harga karet agar tetap bisa memperoleh pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan biaya pendidikan anak, Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin menjadikan karet sebagai campuran aspal.

Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan memanfaatkan karet rakyat yang beberapa tahun terakhir harganya anjlok untuk mengaspal jalan di kabupaten setempat.

Peluncuran uji terap aspal karet yang dihadiri pejabat Kementerian PU PR dan Kementerian Pertanian, merupakan saalh satu upaya menyerap hasil kebun rakyat sehingga petani tidak tergantung dengan pabrik karet untuk menjual hasil kebunnya.

Pemanfaatan karet untuk aspal infrastruktur jalan dapat membantu penyerapan produksi karet daerah ini dan membantu petani karet menghadapi kondisi anjloknya harga karet di pasaran dunia.

Petani karet sudah cukup lama menderita karena harga getah karet yang dihasilkan kebun mereka tidak juga bergerak naik sesuai dengan harapan.

Melalui kebijakan pemanfaatan karet untuk mengaspal jalan di kabupaten ini, diharapkan secara bertahap dapat menyerap produksi karet petani setempat dan mendongkrak harganya hingga mencapai nilai yang cukup tinggi di atas Rp10.000 per kilogram, ujar Bupati. (yud)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *