in

Apakah Kontribusi Waskita Beton Precast di Infrastruktur Jokowi?

Anton Y. Nugroho dan istri, Hermin, ketika meresmikan Ndalem Ratu di Malang

Sebagai bangsa, kita tak boleh berhenti membangun, tak terkecuali  bidang infrastruktur. Kita bersyukur, pemerintah Jokowi-JK bertekad agar target pembangunan infrastruktur 2015-2019 bisa tercapai pada tahun ini.  Untuk mewujudkan target tersebut, Kementerian Keuangan telah menyusun anggaran untuk pembangunan infrastruktur pada 2019 sebesar Rp415 triliun.

Jumlah sebesar itu dialokasikan untuk enam jenis proyek infrastruktur. Pertama, pembangunan, rekonstruksi, dan pelebaran jalan sepanjang 2.007 kilometer. Kedua, pembangunan dan rehabilitasi jembatan sepanjang 27.067 kilometer.

Ketiga, pembangunan bandara baru sebanyak empat unit.

Keempat, pembangunan dan penyelesaian rel kereta api sepanjang 415 kilometer. Kemudian, yang kelima yakni pembangunan jaringan irigasi seluas 162.000 hektare. Terakhir, yang keenam untuk pembangunan 48 unit bendungan.

Menurut Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Askolani, anggaran sebesar itu digunakan untuk membangun infrastruktur yang belum ada, namun sangat mendesak dan dibutuhkan oleh masyarakat. Selain itu, anggaran tersebut juga dimanfaatkan untuk pemerataan pembangunan sampai ke seluruh pelosok Tanah Air. Hal lain yang menjadi alasan menaikkan anggaran infrastruktur pada 2019 yakni memacu pertumbuhan yang lebih tinggi lagi pada masa mendatang dan membantu kelancaran distribusi angkutan logistik ke berbagai penjuru daerah.

Anggaran infrastruktur sebesar Rp415 triliun itu, digunakan untuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebanyak Rp 108,2 triliun, dan Kementerian Perhubungan Rp38,1 triliun. Kemudian Dana Alokasi Khusus Rp33,5 triliun, serta investasi pemerintah melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) dan Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) sebesar Rp39,8 triliun.

Mengejar Ketertinggalan

Jika dirunut ke belakang, alokasi anggaran APBN untuk pembangunan infrastruktur mengalami tren meningkat sejak 2014. Pada 2014 anggaran untuk bidang infrastruktur sebesar Rp154,7 triliun. Pada 2015 meningkat menjadi Rp256,1 triliun. Pada 2016 naik lagi menjadi Rp269,1 triliun. Pada 2017 menjadi Rp390,02 triliun. Pada 2018 naik lagi menjadi Rp410,4 triliun dan 2019 menjadi Rp415 triliun.

Tren meningkatkan alokasi anggara APBN untuk bidang infrastruktur mencerminkan tingginya komitmen pemerintah dan bangsa Indonesia untuk meningkatkan kondisi infrastruktur nasional, terutama untuk mengurangi kesenjangan antara kawasan barat, timur, dan tengah. Komitmen tersebut membuat indeks daya saing infrastruktur Indonesia pada 2017-2018, naik ke peringkat ke-52. Jauh lebih baik jika dibandingkan dengan periode 2010-2011 yang berada di peringkat ke-82.

Namun, berdasarkan penilaian Logistic Performance Index (LPI), kondisi infrastruktur Indonesia masih jauh tertinggal. Kini kita berada di peringkat 63 dengan skor 2,98 berada di bawah Thailand peringkat 45 dengan skor 3,26, Malaysia peringkat 32 dengan skor 3,43, dan Singapura peringkat 5 dengan skor 4,14.

Asean Infrastructure Indicators menunjukan bahwa Indonesia memiliki kapasitas international sea container throughput terendah yaitu 785.000 TEUs, dibandingkan Singapura (33,87 juta TEUs), Malaysia (7,20 juta TEUs), Tailand (7,42 juta TEUs) dan Filipina (3,29 juta TEUs). Selain itu, Indonesia juga memiliki   international cargo loaded terkecil yaitu 101.000 ton, dibandingkan Singapura (839.000 ton), Malaysia (388.000 ton), Tailand (704.000 ton) dan Filipina (144.000 ton). Itulah sebabnya kita perlu menggenjot pembangunan pelabuhan.

Rendahnya indeks infrastruktur berdampak pada tingginya biaya logistik yang bermuara pada ekonomi biaya tinggi dan mahalnya biaya barang dan jasa serta berdampak pula pada menurunnya tingkat persaingan di masyarakat dalam kegiatan perekonomian.

Kita memang harus mengejar ketertinggalan di bidang infrastruktur. Bayangkan apa yang terjadi pada negara kita pada 5-10 tahun mendatang bila pembangunan insfrastruktur tidak dikebut dibangun? Yang pasti negara kita akan digilas oleh negara anggota G20. Bahkan,  kita akan kalah bersaing dengan sesama negara ASEAN.

Kontribusi  WSBP

Komitmen pemerintah untuk mengejar ketertinggalan di bidang infrastruktur sejalan dengan latar belakang pendirian, visi, dan misi PT Waskita Beton Precast Tbk atau WSBP. Semenjak didirikan 7 Oktober 2014, WSBP menjadi entitas tersendiri dan merupakan anak perusahaan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. yang bergerak di bidang industri precast dan readymix dengan kepemilikan 99,99% saham oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk. dan 0,01% oleh karyawan melalui Koperasi Waskita.

WSBP bercita-cita menjadi perusahaan yang terdepan di Indonesia di bidang manufaktur precast, ready mix, quarry, jasa konstruksi dan posttension precast concrete. Visi tersebut diwujudkan melalui misi yaitu:

Pertama, membuat produk secara terus menerus, memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh pelanggan serta melakukan inovasi dalam pengembangan produk dan mendapatkan pengakuan dari pelanggan;

Kedua, menjadikan SDM yang kompeten dan ahli di Industri Precast, Ready Mix, Quarry, Jasa Konstruksi dan Posttension Precast Concrete;

Ketiga, menjalin hubungan saling menguntungkan dengan pihak-pihak yang berkontribusi terhadap kemajuan perusahaan;

Keempat, memanfaatkan teknologi informasi dalam mencapai daya saing.

Tren meningkatnya alokasi APBN untuk bidang infrastruktur dalam lima tahun terakhir, menambah keyakinan WSBP untuk terus fokus pada ruang lingkup bisnisnya. Pada 2018, fokus WSBP pada  industri beton pracetak atau precast (29%) , beton cair atau ready mix (56%),  dan jasa konstruksi dan bidang usaha lain yang terkait (15%).

Produk-produk beton yang dihasilkan oleh WSBP, antara lain, produk precast: untuk pekerjaan jalan, jembatan dan pelabuhan seperti tiang pancang, girder, barier, precast untuk dinding penahan tanah, dan full slab, gorong-gorong, bantalan kereta, tiang listrik, dan untuk bangunan gedung yaitu precast rumah siap huni yang tahan gempa.

Masifnya pembangunan infrastruktur belakangan ini, mendorong WSBP untuk semakin meningkatkan kontribusinya dalam pembangunan infrastruktur nasional. Proyek-proyek besar yang dikerjakan oleh PT Waskita Beton Precast Tbk. antara lain adalah Jalan Tol di atas Laut Tanjung Benoa, Jalan Tol Gempol Pasuruan, Jembatan Kapuk Naga Indah, Jalan Tol Pejagan Pemalang, Jalan Tol Solo Kertosono dan Jalan Tol Bekasi Cawang Kampung Melayu.

Perolehan kontrak WSBP pada 2017 memang didominasi oleh proyek tol di antaranya Jakarta-Cikampek II (Elevated), Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi), Depok-Antasari 2, Gempol-Porong Paket 2, Pematang Panggang-Kayu Agung, Krian-Legundi-Bunder, Batang-Semarang, Kayu Agung-Palembang-Betung dan lainnya.

Namun sejarah mencatat bahwa selain tol, pembangunan Lintas Rel Terpadu Palembang (LRT Sumatra Selatan) adalah karya insan WSBP. LRT adalah sebuah sistem angkutan cepat yang menghubungkan Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dengan Kompleks Olahraga Jakabaring. Pembangunan LRT ini difungsikan sebagai sarana transportasi penunjang warga Palembang dan sekitarnya, termasuk untuk menunjang mobilitas penonton dan atlet pada Pesta Olahraga Asia 2018.

Pada tahun ini, pemerintah kembali menggelar tender tujuh ruas jalan tol, yang sebagian besar berada di Pulau Jawa. Ruas tol yang akan ditender yaitu Semarang-Demak, Serang-Panimbang seksi II Rangkasbitung-Bojong, Semanan-Balaraja, Samarinda-Bontang, Kamal-Teluknaga-Rajeg, Lingkar Timur Surabaya, dan Bandung-Cilacap-Yogyakarta. Ada pula proyek satu juta rumah, jalur kereta api, dan infrastruktur kelistrikan terkait target proyek peningkatan kapasitas listrik hingga 35.000 MW.

Selain itu,  terdapat potensi nilai kontrak baru sekitar Rp2 triliun yang berasal dari pekerjaan tambahan proyek jalan tol Krian-Legundi-Bunder-Manyar (KLBM), Cibitung-Cilincing, Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi), dan proyek lainnya.

Hingga akhir Februari 2019, WSBP telah menandatangani kontrak baru senilai  Rp1,52 triliun. WSBP juga menargetkan peningkatan perolehan kontrak baru senilai Rp10,87 triliun, termasuk orderbook per Februari 2019: Rp10,87 triliun, termasuk carry over 2018 dari Rp9,35 triliun.

Melalui partisipasi yang kian meningkat dalam program pembangunan infrastruktur nasional, kinerja WSBP pun terus mengalami pertumbuhan. Tahun lalu, kapasitas produksi WSBP mencapai 3,5 juta ton, meningkat 7,7% dibandingkan 2017 yang sebanyak 3,25 juta ton. Kapasitas tahun lalu juga telah meningkat 32% dibandingkan 2016 yang sebanyak 2,65 juta ton.

Pada 2019, WSBP  menargetkan pertumbuhan laba menjadi Rp9,4 triliun, naik sebesar 10% dibandingkan pencapaian pada 2018, Rp8 triliun. Laba bersih diperkirakan meningkat menjadi Rp1,39 triliun pada 2019 dibandingkan realisasi 2018 sebesar Rp1,1 triliun dan perolehan tahun 2017 yang sebesar Rp 1 triliun.

Bagaimana mencapai semua itu? Sinergi seluruh pemangku kepentingan—baik internal maupun eksternal—adalah suatu keharusan. Tak mungkin menggapai target mulia itu dengan mengandalkan seseorang, superman sekali pun. Kita membutuhkan superteam. Saya yakin bahwa kita bisa melaju ke arah masa depan yang lebih cerah.

*) Artikel ini hasil wawancara dengan Anton Nugroho, Direktur Keuangan PT Waskita Beton Pecast Tbk

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *